Ungke Tekun Jalani Usaha Gula Aren

0
30
OLAHAN : Salah satu gula aren milik Ungke Mamonto, siap dipasarkan. (F : Istimewa)

KOTAMOBAGU  –  Desa Moyag, Kecamatan Kotamobagu Timur, sudah lama dikenal sebagai desa penghasil gula aren. Tak heran,  jika produk gula berbahan dasar air nira yang diproduksi pengrajin tidak hanya menguasai pasar Kotamobagu melainkan hingga merambah luar daerah.

“Beginilah pekerjaan saya sehari-hari. Membuat gula kemudian dijual di pasar. Usia saya sudah tua, tak mampu jadi buruh harian seperti yang lain.  Jadi hanya begini membuat gula aren yang bisa dilakukan,” sebut Ungke Mamonto, saat dijumpai digubuk tempat pembuatan gula aren, kemarin.

Ia mengungkapkan, dirinya membawa gula aren hasil olahan untuk dijual di pasar. Harganya, sesuai ukuran gula aren. “Biasanya saya jual Rp13 ribu per buah. Tapi ada juga yang Rp15 ribu. Tergantung ukurannya. Alhamdulillah hasilnya lumayan untuk kebutuhan hidup sehari-hari,” ungkapnya.

Papa Yulan –sapaan akrabnya- menjelaskan, untuk membuat gula aren, terlebih dahulu dirinya mengumpulkan air nira menggunakan bambu seukuran 1,5 meter di pohon-pohon nira yang akan dikebunnya. Air nira itu selanjutnya dikumpulkan ke dalam drum kemudian dimasak hingga dua hari. Namun sebelum memasak air nira itu, ia harus mengumpulkan kayu bakar.

“Satu kali memasak (air nira) begini bisa dapat sampai 75 batu (buah) gula aren. Memang agak sulit kalau tidak terbiasa. Tapi kalau seperti saya ini yang sudah 44 tahun begini (pengrajin gula aren), maka ini terasa mudah,” jelasnya.

Untuk kelangsungan usahanya, Ungke menanam sekira 100 pohon aren. Dan saat ini pohon aren sudah bisa menghasilan air nira sebagai bahan baku pembuatan gula. “Air nira ini diambil dari pohon-pohon itu,” tambahnya. (tr-1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.