Perangi Covid, PT JRBM Hentikan Sementara Aktivitas Pertambangan

0
50

BOLMONG — Langkah PT J Resources Bolaang Mongondow (PT JRBM) menghentikan sementara operasi pertambangan lantaran, beberapa karyawan terkonfirmasi positif Covid-19, menuai tanggapan sejumlah kalangan di Bolmong. Sebelumnya, diketahui surat pemberitahuan penghentian sementara aktivitas pertambangan sudah dilayangkan kepada Pemprov Sulut dan kabupaten maupun Dinas Kesehatan (Dinkes) provinsi dan kabupaten/kota.

Seperti, salah satu tokoh masyarakat Bolmong, Kamran Muchtar Podomi. Pihaknya mendukung langkah-langkah dilakukan JRBM tersebut.

“Langkah penghentian sementara operasional JRBM merupakan ikhtiar dan tingkat keseriusan tertinggi JRBM dalam memutus mata rantai penyebaran virus Corona. Masyarakat dan pemerintah wajib memberi apresiasi kepada JRBM dan mendukung upaya ini. Ini langkah yg mungkin tidak akan dilakukan oleh perusahan perusahan sebesar JRBM, karena sudah sangat terkait dgn biaya. Sebagai tokoh masyarakat dilingkar tambang, saya mengajak seluruh masyarakat untuk membantu dan mensupport langkah langkah JRBM itu,” tutur Kamran.

Senada hal itu, salah satu Anggota Dekab Bolmong dari Fraksi Golkar, Zulham Manggabarani mengatakan, kegiatan pertambangan JRBM harus didukung.

“Langkah yang sangat serius dari JRBM untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Saya yakin upaya ini dilakukan untuk kepentingan kemanusiaan. Kita tau, sejak awal bulan April 2020 JRBM sudah menerapkan protokol kesehatan untuk seluruh karyawannya dgn Standar Operasional Prosedur (SOP) yang sangat ketat. Bukan hanya 3M tapi juga 3T Testing, Treasing, Treatment (3T). Tapi bagaimanapun ini adalah virus tetap saja ada yang terpapar. Yang terpenting bagi saya adalah kita harus memberi apresiasi yang setinggi tingginya, sudah melakukan perlindungan terhadap karyawan. Yang terpenting juga semua pihak taat dengan prokes. Masyarakat taat dengan 5M dan pemerintah terus menerus melakukan 3T,” tegas Zulham.

Ia mengatakan, tidak ada perusahaan maupun unit organisasi yang melakukan hal yang sama dengan JRBM, dalam penerapan prokes di lingkungan kerjanya.

Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) PT JRBM, Edi Permadi menjelaskan, alasan mengapa JRBM harus menutup sementara kegiatan operasionalnya adalah faktor untuk memutus penyebaran Covid-19.

“Ini merupakan pilihan terbaik saat ini untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 semata-mata untuk melindungi karyawan dan segenap keluarga. Karyawan adalah aset yang paling berharga yang harus dilindungi. Meski dengan menghentikan kegiatan operasi harus kehilangan sejumlah potensi pendapatan, namun perusahaan lebih mengutamakan kesehatan dan keselamatan pekerja dan keluarga,” urai Edi.

Ia menjelaskan, selama tidak ada aktivitas penambangan, perusahaan akan melakukan beberapa kegiatan pemulihan mulai dari penyemprotan disinfektan dibeberapa lokasi seperti mess, kantor dan fasilitas lainnya. Selain itu, perusahaan fokus merawat dan memperhatikan para pekerja yang saat ini menjalani isolasi mandiri.

“Mereka akan secara rutin diperiksa dan dirawat dokter perusahaan, diperhatikan semua kebutuhannya. Kami berharap mereka segera sembuh dan bisa kembali bergabung bersama keluarganya,” ungkap Permadi.

Edi mengakui, pandemi Covid-19 yang telah berlangsung lebih dari satu setengah tahun berdampak pada semua aspek kehidupan, termasuk kegiatan operasi pertambangan. “Kita berharap agar pendemi ini bisa segera berakhir sehingga aktivitas operasional pertambangan berjalan normal. Pada akhirnya bisa memberi kontribusi bagi bangsa, masyakat dan juga pekerja,” ujar Edi.

Menambahkan hal itu, General Manager (GM) JRBM, Irwan Lupoyo menyebutkan, sebagian besar karyawan JRBM yang menjalani isolasi mandiri di hotel dinyatakan negative Covid-19. “Ini merupakan hal yang baik yang harus juga kita tebar agar para karyawan dan masyarakat pejuang Covid-19 yakin bahwa pasti sembuh dengan istirahat, minum obat sesuai anjuran dokter dan penanganan yang tepat.” Kata Irwan.

Sebelumnya, Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Sulut, terus mengimbau masyarakat agar mematuhi pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di wilayah desa/kelurahan, hingga di tingkat lingkungan sesuai dengan level dari assesment kasus Covid-19 suatu wilayah. Masyarakat yang kontak erat dengan warga positif Covid-19 wajib melaksanakan karantina, sambil menunggu hasil tes PCR, atau segera melakukan pemeriksaan RDT antigen.

“Tetap ketat menaati protokol kesehatan memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak lebih dari dua meter, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas, dan menghindari makan bersama,” imbau Mery, Satgas Covid-19.

Sekadar diketahui, meski trend kasus penyebaran secara nasional baru terjadi penurunan, namun peningkatan kasus masih terlihat dibeberapa daerah luar Pulau Jawa termasuk Provinsi Sulut. Pada Sabtu (31/7) tercatat, angka kasus baru di Sulut, sebanyak 708 kasus positif. Tiga daerah di Sulut berada pada zona merah atau risiko tinggi Covid-19. Ketiga daerah tersebut masing-masing, Kota Manado, Bitung, dan Kabupaten Minahasa Utara. Sementara 10 daerah lainnya berada pada zona orange dan zona kuning. (dim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.