Sulit Dikendalikaan, Pertambangan Ilegal Potolo Sarang Mafia

0
301
MIRIS : Kondisi lokasi Potolo, Desa Tanoyan Selatan, disulap menjadi lokasi pertambangan ilegal. (F : Istimewa)

BOLMONG – Aktivitas Pertambangan Tanpa Izin (PETI) alias tambang liar di Bolaang Mongondow Raya (BMR), kian membabibuta. Larangan seakan hanya jadi ‘aturan semu’ karena pemberlakuan hukum rimba oleh karena diduga ada back-up oknum aparat keamanan, tetap dijalankan. Salah satunya, lokasi Potolo, Desa Tanoyan Selatan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong).

Aktivitas tambang illegal Potolo terus merajalela lantaran para juragan emas (Bos tambang) memiliki koneksi (Jaringan) okunum aparat berpangkat tinggi.  Dengan begitu, para juragan emas  main seenaknya merusak lahan pegunungan tanpa menghiraukan dampak dari lokasi tersebut. Informasi yang didapat koran ini, terkuaknya para bekingan bos tambang itu dari salah satu warga desa Tungoi. Katanya, lokasi Potolo dikuasai oleh pengusaha tambang yang memiliki bekingan kuat. “Iya, saya tau siapa-siapa bos tambang yang berada di lokasi Potolo. Mereka punya bekingan yang kuat,” katanya sambil meminta namanya tidak dipublis.

RUSAK : Kubangan bak rendaman material terpantau dari jauh. (F : Istimewa)

Ditanya nama-nama bos tambang itu, Ia pun enggan membeberkan. Namun rata-rata mereka dipangil ‘Ko’. Bahkan ada bos tambang dari luar daerah (Manado) menurunkan alat berat (Ekscavator). Alat tersebut sudah lama beroperasi.   “Saya punya lokasi di Potolo tapi,  tidak dibuat tambang. Namun, lahan saya jadi rebutan para bos-bos tambang,” ucapnya sambil menjelaskan pembicaraan dirinya dengan para bos tambang tersebut.  Menariknya kata dia, karena lokasinya dilirik sehingga sempat terjadi adu bekingan oleh masing-masing bos tambang. “Iya, sempat terjadi pertikaian antar sesama bos tambang. Bahkan pertikaian itu hingga ke bekingan mereka di pusat,” ungkapnya. Ditanya siapa bekingan para bos tambang itu. Iapun takut membeberkan. Takutnya kata dia, akan dicari dan ditahan. “Yang jelas mereka punya jaringan sampai  ke perwira tinggi,”tuturnya.

bak 1

Beredarnya isu seorang pelaku tambang ilegal dipegunungan Potolo adalah seorang oknum aparat berpangkat tinggi. Bahkan, oknum aparat tersebut semakin ramai diperbincangkan. Pasalnya, menurut keterangan dari beberapa warga mengatakan, salah satu Cukong SW alias San selalu menyebut nama oknum aparat berpangkat tinggi sebagai pemilik lahan dimana cukong tersebut bekerja. “Katanya sih itu milik seorang aparat berpangkat tinggi,” ungkap sumber yang meminta namanya tidak di Publis.

Lanjutnya, bahkan saat ini ada papan pemberitahuan jika lahan tersebut milik oknum Jenderal. “Iya, disana ada papan pemberitahuan yang tertulis nama yang sama dengan oknum jendral, tapi mungkin hanya berteparan sama nama,” terang sumber.

Sementara itu SW alias San saat dihubungi untuk dikonfirmasi terkait nama oknum Jenderal yang sering disebut, apakah benar lahan tersebut milik salah satu oknum aparat, hingga kini belum memberikan jawaban pasti. “Lia Jo Kong tanya samua orang situ,” katanya singkat. Namun saat ditanya apakah oknum aparat yang selalu disebut mengiakan kegiatan ilegal dan apakah oknum aparat tersebut mengetahui namanya disebut-sebut dalam kegiatan ilegal, hingga berita ini tayang tidak ada jawaban dari SW.

Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Julest Abraham Abast saat dihubungi Via WhatsApp terkait kegiatan pertambangan emas tanpa ijin di pegunungan Potolo, pesan dibaca namun tidak ada jawaban.

Salah satu pengamat Bobby M mengatakan, kegiatan tambang ilegal merupakan persoalan klasik. “Persoalan PETI di Potolo, apapun alasannya, secara hukum tidak diperbolehkan untuk melakukan kegiatan operasi. Sehingga kewajiban Pemkab beserta aparat keamanan untuk melakukan pengamanan dilokasi tersebut,” ungkap dosen Hukum ini. Lanjutnya, masalah kegiatan PETI di Potolo menjadi masalah ekonomi sebagian masyarakat BMR. Sehingga ketika dilakukan penertiban, seharusnya sudah dipersiapkan solusinya. “Harus ada solusi, agar tidak berlarut-larut seperti sekarang ini. Jangan sampai terjadi bencana seperti di Bakan lalu baru dihentikan,” ujarnya.

Lanjut dijelaskannnya, Polri tidak boleh pilih kasih dalam menangani kasus PETI. “Pak Kapolda harus menindak tegas pelaku-pelaku perusakan hutan,” ucapnya. Sebab menurutnya, kegiatan tambang menyebabkan kerusakan hutan di wilayah Bolmong semakin menjadi. “Kenapa saya bilang perusakan hutan, karena pakai alat berat. Terutama juga ada indikasi bahwa di Potolo itu ada informasi yang kami terima, disitu ada bermain juga petugas –petugas, entah itu dari pribadinya atau institusinya dia. Intinya, yang berseragam cokelat dan hijau istilahnya, kami minta supaya kapolda beri tindakan tegas, jangan cuma masyarakat yang ditangkap,”ujarnya.

Bahkan menurutnya, ada indikasi kegiatan tambang PETI dibackup yang berpangkat bintang. “Ada  indikasinya mereka itu di back up oleh yang berpangkat bintang, kalau memang berani, itu juga diberantas, jangan cuman rakyat yang di sebut PETI dan dijadikan tumbal, sementara cukong-cukong ini dibiarkan,” pungkasnya. (tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.