Hati- Hati, Calon Sangadi Boneka

0
89
Ilustrasi

KLIK24.ID – Terjadinya calon sangadi boneka, biasanya minimnya peminat dalam pemilihan kepala desa. Minimnya peminat disebabkan berbagai macam. Hal ini dikatakan Mantan Sangadi Tapa Aog, Maslan Mokodongan di kediamannya, Minggu (27/10) kemarin.

Maslan menambahkan faktor yang mempengaruhi minimnya warga ikut bertarung dalam Pilsang disebabkan berbagai hal, diantaranya warga tidak tertarik dengan jabatan sangadi, begitu mahalnya cost politik dalam pilsang dan adanya calon yang dianggap terlalu kuat, biasanya Incumbent. “Masih banyak faktor lain, tetapi umumnya tiga faktor tersebut yang mendominasi,” tambahnya.

Lanjut Maslan, secara regulasi memang tidak dikenal sebagai calon boneka, tetapi munculnya calon boneka dipermulus oleh aturan PP No 43 tahun 2014 pasal 41 ayat 3 point B dan diperjelas pada Perbup No 17 tahun 2019, yang intinya bahwa penetapan calon sangadi atau kepala desa minimal harus dua calon dan maksimal lima calon. “Jika suatu desa terdapat calon kurang dari dua (hanya satu), maka harus mengikuti Pilsang (Pilkades) serentak berikutnya. Sebab di dalam Pilsang tidak dikenal adanya lawan kotak kosong dan calon tunggal,” jelas Maslan.

“Daripada Pilsang(Pilkades) di desa nya ditunda, maka calon utama mempersiapkan calon lain untuk lawan tanding yang dikenal dengan calon boneka. Biasanya calon boneka dibantu pengurusan berkas-berkasnya, dan dibiayai oleh calon utama agar dia mau calon. Keadaan seperti ini, calon utama harus hati-hati. Jangan sampai calon boneka yang terpilih, seperti yang terjadi di Dumoga tahun 2016 lalu,” sambungnya sambil tertawa.

“Dua Kisah calon Boneka terjadi di sragen, Jawa Tengah, kedua-duanya anak melawan ibu kandung dalam Pilkades, yaitu desa Sidoharjo dan Desa Slogo. Di Sidoharjo anak lulusan tehnik kimia (Incumbent) melawan ibu kandung, dan Di Sidoharjo ibu (Incumbent) melawan anak pertamanya. Di sidoharjo Incumbent untuk yang ketiga kalinya ikut Pilkades, masyarakat puas dengan kepemimpinannya sehingga tidak ada yang berani melawan. Begitu pula di Slogo,  incumbent dua periode, anak muda lulusan tehnik kimia yang rela mengabdikan diri untuk desa kelahirannya, dan hasil kerjanya selama memimpin desa, memang bisa mensejahterakan masyarakat, sehingga Incumbent bingung mencari lawan tanding. Salah satu cara ibu kandungnya di suruh mendaftar dan incumbent yang mengantar mendaftar di panitia setempat.

Salah satu calon Sangadi, saat ditemui HBR mengatakan keikutsertaan dalam pilsang memang berkas- berkas dibantuin (diurus). Namun dirinya mengaku akan berjuang dalam pilsang. ”Saya tidak mau dikatakan boneka, saya akan berjuang. Siapa tahu ini rejeki dan amanah dari masyarakat,” ungkap salah satu calon tersebut.

“Kalau pengamat atau masyarakat mengatakan saya adalah calon boneka, itu silahkan. Tetapi saya akan berusaha, dan akan mengikuti tahapan-tahapan pilsang yang telah ditetapkan, baik dalam pembuatan visi misi, akan kampanye, dan tentunya melakukan pendekatan warga dari dapur ke dapur, dengan menawarkan program-program yang menarik untuk kebaikan atau kemajuan desa kami,” sambungnya.(jok)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.