Penggalan Cerita tentang Katamsi

    0

    SUATU sore di Ramadhan pada 2000, saya sedang menyelesaikan artikel berita yang akan diterbitkan tabloid mingguan KABAR. Kebetulan, saya sendirian di kantor. Lebih tenang dan fokus bekerja dengan harapan segera merampungkan satu artikel sebelum berbuka puasa.

    Sebentar lagi maghrib tiba. Saya beranjak dari depan komputer, bermaksud menyiapkan berbuka puasa, dan melihat apa yang bisa diminum atau dimakan di ruang kantor tersebut. Saya mengambil teh celup, memasukkan ke gelas dan menuangkan air panas.

    Ketika hendak menambahkan gula ke dalam gelas teh, ternyata wadah yang biasa terisi gula telah kosong. Saya merogoh dompet di kantung celana, yang juga ternyata kosong. Saya meletakkan teh tawar itu di atas meja; berharap sudah tak lagi terlalu panas ketika waktu berbuka tiba; dan melanjutkan mengedit artikel berita.

    Beberapa saat kemudian, telepon berdering. Saya mengangkat gagang telepon dan di ujung sana terdengar suara, “Mat, ngana deng sapa?” Suara akrab itu ternyata adalah Katamsi Ginano –orang yang merekrut saya bekerja di KABAR, namun saat itu sudah bekerja di tempat lain. Bang Tamsi –panggilan lebih akrab bagi kami di KABAR untuk beliau– mengajak saya ke Cafe News yang berjarak sekira 200 meter dari kantor saya. “Kalu ada tamang laeng di situ, pangge kamari le,” imbuh Bang Tamsi. Tapi, saya memang sedang sendirian.

    Saya memenuhi panggilan Bang Tamsi dengan berjalan kaki. Di cafe tempat biasanya para jurnalis nongkrong untuk menikmati kopi dan memanfaatkan jasa internet, Bang Tamsi menunggu. Dia ditemani istrinya, dr Paula Lihawa. “Di sini depe steak daging sapi enak,” Bang Tamsi menawarkan. Saya mengikuti pesanan pasangan suami-istri yang mentraktir berbuka puasa ini. Menambahkan kopi. Bang Tamsi memesan dua bungkus rokok Marlboro merah dan menyorongkan sebungkus ke hadapan saya.

    Saya menyantap makanan yang tersaji dengan lahap. Menyeruput kopi dan menghirup asap rokok penuh nikmat. Menimpali obrolan bersama Bang Tamsi dengan santai seperti biasanya; termasuk membahas situasi KABAR yang tak lebih baik sejak ditinggalkannya. Bang Tamsi –yang juga akrab dipanggil Piang oleh kerabatnya– termasuk abang atau senior yang unik, karena kita tak perlu sungkan dan menyapa dengan punggung membungkuk. Bagi dia, kesetaraan bukan sekadar wacana teoritis yang mengapung dalam kepala, melainkan praktik yang tak lepas dari perilaku kesehariannya.

    Petang itu, saya beranjak dengan perut kenyang. Tak cukup di situ, ketika hendak berpisah, Bang Tamsi menggenggamkan beberapa lembar fulus ke tangan saya. Panggilan sore itu di telepon bagi saya laiknya ajakan seorang “mesias”.

    ULET DAN KEYAKINAN TEGUH. Dua hal ini, menurut saya, merupakan gambaran dirinya dalam melakoni pekerjaannya. Ketika di KABAR, dia begitu betah berjam-jam berhadapan dengan layar komputer dan mengobrak-abrik hasil reportase kami hingga menjadi sebuah artikel bernas dan enak dibaca.

    Dia begitu cermat dan cenderung perfeksionis berkaitan dengan produk tulisan dari KABAR. Pernah salah seorang senior di KABAR geram, sebab tulisannya diutak-atik Bang Tamsi. Seorang teman memperlihatkan pada saya tulisan yang hendak mengisi kolom di KABAR; tulisan awal dan yang telah melewati pengeditan oleh Bang Tamsi sudah berubah jauh bentuknya, walau substansinya tak berubah; dan saya tertawa membayangkan wajah si senior seolah koreksi seperti ini tak lazim dan seakan menciderai harga-dirinya sebagai seorang penulis.

    Di masa Bang Tamsi pengeditan tullisan dilakukan dua kali –atau lebih tepatnya tiga kali–, yakni: pertama, ketika hasil reportase disusun sebagai bangun tulisan dalam jumlah karakter tertentu sesuai luas halaman tabloid; kedua, saat selesai ditulis sebagai sebuah artikel, sebelum lay out; dan ketiga pada saat selesai desain pra-cetak. Model pengeditan ini membuat semua alumni KABAR mudah saja memperkirakan jumlah karakter ketika hendak menulis artikel opini atau tulisan lain di suatu media, hanya dengan memperhatikan luasan kolom.

    Keseriusannya mengelola pekerjaan terlihat dari kelahapannya mengunyah informasi. Sebagai Redaktur Pelaksana (saat itu Pemimpin Redaksi KABAR adalah Pitres Sombowadile), Bang Tamsi jeli memantau peredaran informasi. Beberapa kali, karena penugasan tertentu, saya diminta ke rumahnya pagi hari. Jika mendapat tugas seperti ini, saya akan bangun sangat pagi dengan maksud menikmati kopi dan sarapan di rumahnya sebelum melaksanakan tugas. Dan beberapa kali itu pula, saya melihat Bang Tamsi menenteng beberapa koran lokal sambil menunggu kalau masih ada koran lain yang terlewatkan. Saya kira, saat itu semua loper koran yang berjualan di Jalan Samrat di kompleksnya, pasti dikenalnya. Dan untuk kebutuhan ini, sebelum matahari terbit, dia telah mondar-mandir di depan lorong.

    Keuletan ini menunjukkan bahwa Bang Tamsi adalah pembelajar yang baik. Dia tak hanya haus memenuhi dahaga intelektualnya dan menyempurnakan pekerjaannya. Tetapi, dia giat mengasah potensi awaknya. Anak-anak KABAR seperti Endi Rohendi Biaro, Begie Chandra Anugerah Gobel, Asep Sabar, Vonny Suoth, Raymond Pasla, Jamaluddin Lamato, dll. tak jarang kena dampratan Bang Tamsi bila dianggapnya kurang becus menyelesaikan tugas yang diberikan. Dia termasuk guru yang sangar.

    Soal mengasah kepenulisan, Bang Tamsi menggodok kami secara personal. “Belajar menulis adalah proses penularan,” katanya. Ketika Bang Tamsi menulis, kami sering bergantian duduk di samping beliau. Melihat bagaimana potongan-potongan wawancara, fakta yang dikumpulkan, informasi pembanding, dlsb. “dijahit” menjadi sebuah artikel.

    Dia juga menyusun kurikulum untuk mengajar jurnalistik di KABAR. Penguasan teori dan banyaknya pengalamann beliau dalam dunia jurnalistik (termasuk menjadi wartawan Republika dan meliput di wilayah konflik zaman Orde Baru, termasuk melakukan peliputan di Timor Leste dan Filipina Selatan) membantu banyak perkembangan mereka yang belajar di bawah binaannya. Bang Tamsi termasuk mentor berkelas untuk jurnalistik dan dunia kepenulisan.

    PENULIS PRODUKTIF DENGAN GAYA MEMUKAU. Saya pernah mengatakan pada Bang Tamsi, puncak kepenulisannya ada pada kolom “Ufuk” di tabloid KABAR. Ini, mungkin, penilaian subyektif. Namun, bagi saya, tulisan di kolom yang tak berumur panjang ini adalah esai-esai menarik setelah Catatan Pinggir di majalah Tempo yang ditulis Goenawan Mohamad. Tentu saja, penilaian ini datang dari orang dengan keterbatasan referensi seperti saya.

    Saya punya pengalaman lain berkenan dengan tulisan di Ufuk. Dalam sebuah tulisan, Bang Tamsi menggambarkan dirinya sedang menonton TV dengan geram. Penggambaran suasananya begitu hidup, sehingga kita seolah-olah sedang duduk menonton bersamanya dan ingin menendang layar kaca di depan kita karena buruknya acara yang disajikan. Saya mengulang membacanya tiga kali, lantas meletakkan lembaran tabloid di atas meja.

    Sembari menyeruput kopi dan mengepulkan asap rokok, Endi Biaro mendekat dan mengambil posisi duduk di depan saya. Si “bookaholic” ini langsung mengambil tabloid yang ada di depannya dan memilih kolom Ufuk. Endi, yang pernah didapuk sebagai penulis blog terbaik oleh Detik.com, adalah tipe pembaca cepat dan penulis cepat. Namun, kali ini matanya agak lama memelototi karya Bang Tamsi. Ketika dia mendongak ke arah saya, Endi Biaro menggeleng-gelengkan kepalanya. “Saya baca berapa kali, Mad. Dahsyat banget. Kok bisa Abang nulis kayak gini.”

    Bang Tamsi juga adalah penulis cepat. Para pekerja di KABAR, termasuk saya, biasa menyaksikan bagaimana kecepatan luarbiasanya dalam merangkai kalimat menjadi sebuah tulisan. Dia tak dihantui kejenuhan. Menikmati menyimak rangkaian kalimat di paragraf paling awal, mengutak-atik kalimat yang masih dianggap kurang pas, dan lantas melanjutkan lagi menyusun paragraf berikutnya. Soal kecepatan, jangan ditanya lagi. Di hadapan saya, seorang penulis sekaliber Hamid Basyaib menceritakan pengalamannya soal kecepatan menulis Bang Tamsi yang mengundang decak kagum.

    Jika ada yang meragukan klaim ini, silahkan duduk minum kopi dengan Bang Tamsi dan berikan satu thema. Bila mood-nya sedang baik, Anda akan terperangah. Entah, ketika usianya semakin senja dan kesibukan pekerjaan mengerubutinya saat ini.

    KEMONGONDOWAN. Saya sering gusar dengan orang Mongondow, yang sekolah atau kuliah di Manado –barangkali, juga di kota lain tak lebih sama. Menurut saya, anak-anak Mongondow secara umum merasa inferior dengan identitas daerahnya. Mereka tak sama dengan orang Gorontalo, Makassar, Jawa, Papua, dan suku lainnya yang tidak bermasalah atau terbebani identitas kulturalnya. Soalnya kegusaran itu adalah tiap kali bertemu dan mengajak mereka mengobrol Bahasa Mongondow, mereka menyahutinya dengan bahasa Melayu Manado; atau pun jika menjawab dengan Bahasa Mongondow, mereka cepat mengalihkan dan menimpalinya dengan Melayu. Saya tak tahu alasan mereka, namun saya berasumsi mereka umumnya malu menggunakan Bahasa Mongondow — dan lebih buruk lagi, malu dengan identitasnya sebagai orang Mongondow.

    Katamsi Ginano, berbeda. Di banyak kesempatan, dia unjuk diri sebagai orang Mongondow. Pengalaman saya terlibat dengannya adalah pada pendirian tabloid dua mingguan Totabuan. Juga, walau tidak begitu aktif, pada Yayasan Bakid. Dia antusias jika obrolan sesama orang Mongondow disisipkan diksi-diksi Bahasa Mongondow. Dan kami akan terbahak-bahak jika membahas diksi apa yang akan diselipkan dalam tulisan di rubrik “O-uman” di tabloid Totabuan yang diasuhnya.

    Mongondow adalah segalanya bagi Bang Tamsi. Itu pula, yang tak jarang, membuat para penguasa di Bolaang Mongondow Raya (BMR) melihat sosok ini bagai hantu. Dia kerap melontarkan kritikan lewat tulisan pedas kepada penguasa di BMR. Baginya, semua orang Mongondow adalah handai-tolan yang harus dilindungi dan diperjuangkan kepentingannya. Orang-orang yang bergaul dekat dengan Bang Tamsi menyadari betul perspektif Kemongondowan-nya. Dia tak akan tedeng aling-aling jika urusan membela kepentingan tanah leluhurnya.

    Dalam konteks politik di BMR, menurut saya, Bang Tamsi mengambil posisi sentral. Dia praktisi politik yang tidak bermain di tataran praktis. Meminjam istilah yang pernah dipopulerkan oleh Amien Rais, dia memillih mengambil peran dalam permainan high politics (politik adiluhung), ketimbang berjibaku dalam sistem politik praktis. Ini tentu bukan pilihan populis untuk meraup popularitas dan menggaet dukungan arus bawah. Walau, sebenarnya performanya memungkinkan untuk itu. Dia cukup sabar, berpuluh tahun, menjadi antitesa kekuasaan tanpa tergoda bermain di wilayah low politics.

    PEMBUAL. Suatu hari, oleh Bang Tamsi, saya dipertemukan dengan Hamid Basyaib. Saya mudah akrab dengan Hamid karena dia seorang yang berpikiran terbuka –mungkin juga, karena sama-sama Golkar (golongan keturunan Arab, maksud saya). Di hadapan dua “pendekar” berilmu tinggi, saya lebih banyak menyimak keduanya.

    Saya dan Hamid sempat bergosip soal dirinya, di waktu ada kesempatan ketika Bang Tamsi meninggalkan kami berdua. (Maaf, Bang Tamsi, gosip adalah naluri homo sapiens, dan setiap kita tak bisa menahan diri bergosip bila ada kesempatan). Kami membicarakan beberapa hal tentang Bang Tamsi, termasuk perannya yang besar di PT Newmont Asia Pasifik. Tentu bukan perkara mudah bagi seorang –meminjam isitilah Bang Tamsi sendiri– “patah pensil” dan dipercayakan memimpin satu divisi di perusahaan multi-nasional sebesar Newmont. Setahu saya, waktu itu bahkan Bang Tamsi tidak menyelesaikan kuliah S1 di sebuah perguruan tinggi di Manado.

    “Tapi, ngomongnya Tamsi harus didiskon, ya,” ucap Hamid. Saya tertawa. Saya kira, Bang Tamsi adalah penutur ulung. Saya teringat pengalaman yang dinukil Endi Biaro. Dia menemani Bang Tamsi mengunjungi kantor sebuah jasa traveling. Sambil menunggu pegawai di kantor tersebut, Bang Tamsi memungut sebuah brosur promosi wisata dan membacanya. Yang membuat Endi terpukau adalah ketika Bang Tamsi mengobrol dengan pegawai di tempat tersebut. Dia menceritakan tempat yang barusan dibacanya seolah pernah mengunjungi tempat tersebut. Detil. Dan si pegawai, yang tahu tempat yang diceritakan, menimpali dengan serius. (Kini, tentu saja, berbeda. Bang Tamsi telah melanglang-buana ke segenap negeri).

    Hamid rupanya tidak tahu, kami tak hanya belajar jurnalistik dan teknik menulis pada Bang Tamsi. Tetapi, juga kemampuan memecah kebekuan pembicaraan. Dan bualan. Hahaha.

    Ada hal yang saya percaya, yang mungkin bahkan Bang Tamsi tidak mempercayainya. Saya pernah mengatakan padanya, bahwa tidak ada politisi di BMR –tentu, yang saya maksud adalah pemain low politics– yang mampu menandingi kepiawaian Sehan Landjar. Kecuali, Bang Tamsi mau turun dari sekadar bermain di high politics. Pernyataan itu bukan tanpa dasar argumentasi; bukan tanpa basis material dalam realitas politik BMR; tetapi dari pengamatan puluhan tahun terhadap para pemain politik di BMR.

    Politik tak sepenuhnya serius bagi orang Mongondow. Seorang Kepala Desa (Sangadi) di Nuangan, Fadel Binjindan, memberikan petuah sederhana menghadapi khalayak Mongondow. Dia mencontohkan gaya Sehan sebagai ideal bagi orang Mongondow. “Muran bi’ tandukon aka intaw Mongondow,” katanya. Menurutnya, karakter pemimpin yang diinginkan di Mongondow, bukan menonjolkan kewibawaan dan berjarak dengan rakyat. Tapi, tahu cara bergurau dengan rakyat.Saya mengamati para sangadI di wilayah saya bertugas, mereka memiliki karakter itu.

    Itulah yang saya sampaikan kepada Bang Tamsi: keunggulan Sehan dibanding kebanyakan politisi di BMR; karakter pemimpin yang bisa mengakar di kalangan rakyat; dan siapa tokoh yang punya potensi untuk mengimbangi Sehan. Argumen saya bisa diperdebatkan. Namun, kenapa kita tidak mengujinya?

    PEMAAF DAN PEMURAH. Suatu hari saya dan Endi Biaro terlibat aksi unjuk rasa yang dilabeli judul: Newmonster Award. Dari judulnya, jelas bahwa kelompok ini menyasarkan kritik ke Newmont –lebih tepatnya PT Newmont Minahasa Raya– dan juga lembaga atau perorangan yang dianggap menyokong perusahaan tambang emas tersebut. Entah bagaimana awalnya, Bang Tamsi dimasukkan dalam kategori penyokong Newmont dari kalangan jurnalis. Padahal waktu itu Bang Tamsi sudah tidak bekerja di perusahaan media massa dan sedang menikmati pekerjaannya di sebuah perusahaan tambang di Kalimantan.

    Dia tersinggung. Sebuah tulisan pendek dan dingin dikirimkannya ke Manado Post. Saya dan Endi Biaro merasakan kemarahan itu. Sangat marah. Sebab, dia kemudian menanyai saya, juga Endi Biaro, perihal demontrasi itu. Endi menyampaikan kekuatirannya pada saya, sebab pekan berikutnya Bang Tamsi akan mengambil cuti ke Manado.

    Hari itu pun tiba. Saya dijemput beberapa teman dan menyusul Bang Tamsi ke Yayasan Serat untuk menemui Endi Biaro yang tinggal di kantor organisasi non-pemerintah (ornop) itu. Sesampainya di sana kami mengobrol ngalor-ngidul. Endi Biaro, tentu saja, was-was menunggu dilabrak. Bang Tamsi lebih banyak membicarakan Yayasan Serat dan perkembangan gerakan ornop di Indonesia saat itu. Saat menunggu Endi Biaro berganti pakaian memenuhi ajakan makan Bang Tamsi, tak secuil pun menyentil soal “Newmonster Award”.

    Begitulah suasana berjalan hingga acara makan bersama selesai. Bang Tamsi juga mengundang untuk makan bersama lagi esok malamnya. Endi Biaro penasaran. Sebab, dia tahu nada ancaman dari Bang Tamsi. Di acara makan bersama kedua, Endi Biaro menyela, “Kapan kami dilabrak, Bang?”

    “Kenapa dilabrak? Aku juga pernah nakal, Endi,” katanya. Kami tertawa bersama. Menikmati traktiran Bang Tamsi. Dan, tentu, berkah tak hanya sampai urusan makan, tapi juga bekal rokok dan “jatah preman” alias uang saku.

    Bertahun-tahun saya bergaul dengan Bang Tamsi dan merasakan kemurahannya bagi orang-orang di sekitarnya. Beberapa teman mendapatkan pekerjaan lewat relasinya. Sewaktu membantunya bekerja di Totabuan, dia menawari saya untuk bekerja di Koran Tempo –enam bulan sebelum koran ini terbit. Saya menampik dengan alasan harus memenuhi janji pada Ibu untuk menyelesaikan studi. Begitu pun saat dia bekerja di Kalimantan, dia kembali menawarkan merekrut saya bekerja di sana. Dengan alasan yang sama, saya menepis tawaran itu.

    Saya juga tak pernah kecewa, ketika menghubunginya di situasi sulit.

    Beberapa waktu lalu, dia menelepon saya. Menanyakan kondisi seorang kawan yang dikabarkan sakit. Dia berpikir untuk membantu. Apalagi, dalam pengamatannya terhadap keadaan kawan itu, terlihat parah. Dan saya yakin dia mengirimkan bantuan.

    Sebagai seorang manusia, Bang Tamsi tak luput dari kekurangan. Namun, sebagai teman, saya begitu merasakan keluasan hatinya. Sebagai penulis, dalam kadar langit yang bisa saya jangkau, dia termasuk yang unggul.

    Selamat Ulang Tahun, Bang Tamsi. Semoga senantiasa sehat, sejahtera, dan bahagia.

    13 Juni 2020

    Penulis: Ahmad Alheid

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.