Kisah Mentari Mundok, Guru TK Adampe Dolot Kotamobagu yang Membawa Papan Tulis, Mengajar di Rumah Siswa

    0
    PAHLAWAN TANPA TANDA JASA: Mentari Mundok membawa papan tulis untuk member pelajaran di rumah siswanya, Kamis (23/7) kemarin. (f-harry tri atmojo)

    Tak ada yang menginginkan situasi seperti ini. Gegara corona, tahun ajaran 2020/2021 ini berbeda dengan tahun ajara baru sebelumnya. Tidak ada belajar mengajar di sekolah, sebagai gantinya melakukan BDR atau belajar dari rumah. Berikut kisah Mentari Mundok, salah satu guru di TK Adampe Dolot Kotamobagu yang harus membawa papan tulis saat mengajar di rumah siswa.

    Tepat pukul 08.00 Wita, Kamis (23/7) kemarin, Empat guru TK Adampe Dolot Kotamobagu memulai aktifitasnya mengajar para siswanya. Usai berdoa yang dipimpin kepala sekolah Rohani Moko Spd, para guru langsung menuju kedalam ruanganuntuk mengambil perlengkapan mengajarnya. Tak terkecuali Ibu guru Mentari Mundok. Ia mengambil papan tulis, diangkut menggunakan pundaknya kemudian bergegas keluar sekolah menuju rumah salah satu siswanya di Kelurahan Mogolaing.

    Ya.. berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ajaran baru 2020/2021 ini, ia bersama guru lainnya terpaksa mengunjungi rumah para siswa-siswinya untuk belajar. Larangan bersekolah karena pandemic corona, menjadi alasan para guru ini tak diperbolehkan mengajar secara berkumpul di sekolah.

    Jarak antara sekolah hingga rumah salah satu siswanya bernama Naila Safitri Walang sekira 4 kilo meter. “Biasanya kami hanya berjalan kaki. Tapi karena rumah siswa kami lumayan jauh, terpaksa kami menggunakan bentor,” ungkap Mentari Mundok. Perjalanan sekira 10 menit akhirnya sampai di Kelurahan Mogolaing, tepatnya di lorong pot bunga area kantor SKPD. Namun karena bentor tak masuk di rumah siswanya, ia terpaksa jalan kaki melewati lorong pot bunga. Sekira 5 menit, ia sampai di jalan masuk rumah Novianti, ibu dari Naila Safitri Walang.

    Ibu guru Mentari masih harus melewati pematang kolam untuk menuju rumah siswanya tersebut. “Assalamualaikum ucapnya saat tiba di rumah tersebut,” ucap guru yang sudah 5 tahun bekerja sebagai Tenaga Harian Lepas (THL) guru di TK Adampe Dolot Kotamobagu. Dengan wajah ceria, ibu dan Naila yang berseragam TK, menyambut gurunya yang baru datang. Iapun kemudian mempersiakan tikar yang akan digunakan untuk belajar di rumah atau yang dikenal BDR.

    Ibu guru Mentari memulai dengan berdoa bersama Naila dan ibunya. Kemudian dilanjutkan dengan hafalan surat-surat di Alquran dan pelajaran menggambar dan mewarnai jari-jari tangan.

    Ibu guru Mentari mengaku kegiatan turun ke rumah siswanya ini dilakukan setiap hari sejak tahun ajaran baru, 13 Juli dimulai. “Iya setiap hari kami para guru di TK Adampe Dolot turun ke rumah-rumah. Kebetulan rumah siswa bernama Naila ini paling jauh,” katanya.

    Saat ditanya alasan kenapa ia harus membawa papan tulis, ia mengungkapkan jika meski belajar di rumah, suasana sekolah harus tetap bisa dirasakan oleh siswanya. “Memang ini menjadi salah satu kendala siswa yang baru pertama kali sekolah. Mereka mempunyai bayangan bersekolah seperti biasanya. Namun karena situasinya seperti ini, maka kami merubah suasana di rumah seperti di sekolah, dengan membawa papan tulis. Adakalanya kami membawa alat-alat praktek para siswa,” ungkapnya.

    Selain masalah tersebut, jarak rumah siswa dan sekolah juga menjadi salah satu kendala. Belum lagi sulitnya mencari lokasi rumah. “Saya juga sudah rindu canda tawa anak-anak di sekolah. Tapi karena situasinya belum memungkinkan terpaksa kami yang turun mengunjungi mereka,” ujarnya sambil berharap pandemik cepat berlalu.

    Orang tua siswapun menyambut gembira guru tetap member pelajaran, meski berada di rumah. “Alhamdulilah anak-anak tetap bisa belajar. Kami juga tak tahu kapan ini akan berakhir,” ungkap Novianti, orang tua dari naila Safitri Walang.

    Kepala Sekolah TK Adampe Dolot Rohani Moko mengakui banyak kendala para guru selama pandemic ini. Meski begitu kecerdasan para siswa yang harus tetap diperhatikan para guru. “Setiap Senin para guru mempersiapkan segala materi selama satu minggu, baru haris Selasa hingga Jumat mulai pukul 08.00 hingga 12.00 mereka turun berkeliling ke rumah-rumah siswa,” katanya sambil menerangkan jika di TK Adampe Dolot ada 53 siswa.

    Terpisah Kadis Pendidikan Kotamobagu Dra. Rukmi Simbala, MAP mengakui proses belajar mengajar selama pandemic tetap harus dilakukan. Namun bedanya melalui BDR atau belajar dari rumah. “Ini adalah bentuk komitmen kami untuk memaksimalkan fungsi pengawasan dalam bidang pendidikan, sehingga dapat dipastikan semua siswa terlayani akan hak-hak mereka untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran dari guru-guru,” ungkapnya.

    Dinas pendidikan pun terus melakukan monitoring BDR ini.” Proses KBM masih menggunakan metode daring dan luring serta melarang kegiatan tatap muka disekolah/kelas sebelum ada petunjuk selanjutnya,” jelasnya.(*)

     

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.