Direktur RSIA Kasih Fatimah Tanggapi Kembali Pernyataan BPJS Kesehatan Cabang Tondano.

0
277

KLIK24.ID — Pernyataan dari pihak BPJS Kesehatan cabang Tondano kepada media beberapa waktu lalu, mendapat tanggapan dari Direktur RSIA Kasih Fatimah dr Sitti Korompot.

dr Sitti menuturkan, pernyataan dari pihak BPJS Kesehatan yang dimuat dalam laman KLIK24.ID terkait tahapan pelaksanaan kredensial memang benar. Namun, yang dilakukan oleh pihak BPJS kesehatan tidak transparan soal penilaian.

Bahkan, pada saat ada pernyataan dari petugas BPJS Kesehatan bahwa pihaknya tidak akan turun langsung melakukan penilaian, karena hanya akan melalui aplikasi zoom meeting tidak sesuai dengan pernyataan awal.

dr Sitti mengatakan, pada saat pihak BPJS Kesehatan turun, kondisi RSIA Kasih Fatimah tengah direnovasi. Dimana ada beberapa bangunan pelayanan yang dibongkar (Untuk direnovasi kembali).

“Sudah ada beberapa tahap yang kita lewat. Kalau menurut saya pribadi mereka yang ada disini tidak transparan menginformasikan hasil penilaian. Apa yang kurang atau bagaimana. Kalau berdasarkan isi pernyataan yang dimuat di laman klik24.id ini sudah sejak 23 Oktober berproses. Dari mulai mereka menyurat ke kita. Mengirimkan form penilaian diri sendiri. Kita terima itu tanggal 23 Oktober. Kita isi itu form penilaian diri sendiri, kita dapat nilai 82. Cuma pada saat mereka datang di tanggal 9 November. Awalnya mereka memberitahukan bahwa pihaknya (BPJS Kesehatan) tidak akan turun langsung melakukan penilaian. Mereka (BPJS Kesehatan) mengatakan semua aman. Penilaian hanya dilakukan melalui aplikasi zoom. Saya katakan keadaan kita sekarang dengan bulan Februari lalu saat kredensial sama, alatnya sama semua lengkap. Cuma ada perbedaan karena kita sementara renovasi. Ruangan poliklinik itu hanya sementara semua. Karena tidak mungkin kita tidak melayani pasien. Karena dilantai 1 itu dibongkar semuanya. Pada saat mereka datang dan melihat kondisi memang kondisinya sementara dalam proses renovasi. IGD masih kotor. Waktu itu mereka foto keadaan saat itu. Kemudian dia nilai, dia ceklis semuanya. Penilai dari BPJS kesehatan katakan apa yang ada di form penilaian pribadi tidak ditemukan saat kunjungan itu. Padahal memang saat itu kondisi bangunan dalam renovasi, jadi tidak ada,” tutur dr Sitti kronologi penilaian.

Setelah itu, lanjut dr Sitti, pihaknya menunggu hasil penilaian yang dilakukan oleh petugas BPJS Kesehatan. Bahkan, sambung Sitti, pihaknya rutin melakukan kroscek terkait hasil penilaian yang dilakukan oleh pihak BPJS Kesehatan.

Sitti mengungkapkan, petugas BPJS Kesehatan yang melakukan penilaian, juga mengeluarkan pernyataan bahwa hasil penilaiannya terhadap RSIA Kasih Fatimah semuanya aman.

“Kita tunggu-tunggu hasilnya. Kita rutin cek ke petugas. Kita konfirmasi ke petugas tersebut dia mengaku hasil penilaian aman. Kita berfikir aman. Tidak ada masalah. Pekan selanjutnya juga kita konfirmasi kembali nilai kita bagaimana, petugas tersebut hanya memberikan pertanyaan, apakah laboratorium di Prodia tersebut ketika ada pasien yang melakukan pemeriksaan di laboratorium tersebut ditanggulangi oleh RSIA Kasih Fatimah. Dan itu saya akui setiap pemeriksaan pasien dari RS Kasih Fatimah kita tanggulangi. Hasilnya tidak diceklis oleh petugas tersebut penilaian terkait laboratorium,” jelasnya.

Ditanggal 6 Desember, lanjut Sitti, hasil penilaian keluar. Namun, nilai tersebut tidak sesuai prediksi dari kata aman yang disampaikan oleh petugas BPJS Kesehatan. Pihaknya juga telah melakukan konfirmasi terkait penilaian yang dilakukan oleh pihak petugas BPJS Kesehatan Kotamobagu seperti apa. Petugas tersebut juga mengaku, nilai tersebut adalah hitung-hitungan dari pihak BPJS Kesehatan yang ada di Tondano.

“Setelah tanggal 6 nilai kita dikeluarkan. Ternyata nilai kita hanya 69. Tanggal 6 itu juga ada surat masuk yang memberitahukan akan ada pertemuan tanggal 8 melalui zoom meeting. Kita tanyakan kembali ke petugas penilai seperti apa penilaian yang dilakukannya. Kenapa hasilnya seperti itu. Dan pengakuan dari petugas tersebut bahwa apa yang dia lihat dan dinilainya tidak seperti apa yang dinilai oleh pihak RSIA Kasih Fatimah sendiri. Dan kata saya semua itu ada, cuma saat itu memang sementara renovasi. Jadi kelihatan terbongkar. Kita juga tanya kenapa seperti itu. Setiap kita tanya dia (Petugas tersebut) bilang semua aman. Ternyata seperti itu. Dia mengaku bukan dia yang melakukan perhitungan penilaian tapi dari cabang Tondano. Saya katakan itu tidak mungkin. Bagaimana mereka yang hitung sementara yang turun ke RSIA adalah dia sendiri,” ucapnya.

Ia mengaku, pihaknya juga telah menanyakan langsung, tindakan apa yang harus dilakukan oleh pihak RSIA Kasih Fatimah untuk memperbaiki nilai tersebut. Namun, (kata petugas tersebut) sambung Sitti, nanti akan dilanjutkan pada saat pertemuan secara daring.

“Kita sempat tanya apa yang harus kita lakukan untuk memperbaiki nilainya tersebut. Dia sampaikan sudah tidak perlu nanti di tanggal 8 itu saja saat pertemuan melalui aplikasi zoom. Pada dasarnya kita belum tahu apa kekurangan kita. Fasilitas, petugas semua ada. Pada saat zoom meeting itu kita sampaikan sanggahan kita. Kenapa hasilnya seperti itu. Mereka sampaikan berapa bed kita. Kita fikir bed kita hanya 35 itu. Ternyata bed yang diruang bersalin dan di igd itu harus juga dihitung. Kita sampaikan seperti tahun lalu bed itu hanya di ruang inap pasien. Nah mereka sampaikan itu termasuk bed. Karena ternyata yang jadi sasaran itu jumlah bed dan jumlah petugas tidak sesuai. Kalau bed ada 54 petugas itu harusnya 35 orang. Nah petugas kita hanya 24. Jadi dia sampaikan nilai kita nol. Karena jumlah tenaga tidak sesuai dengan jumlah bed. Kita tawarkan kita akan menurunkan jumlah bed yang ada, supaya sesuai. Hanya dari mereka bilang sudah tidak boleh. Apa yang sudah ada disitu tetap seperti itu. Kecuali bed tersebut dipindahkan ke tempat lain atau digudang,” imbuhnya.

“Kita minta waktu untuk melakukan perekrutan tenaga baru. Supaya genap 35 orang. Mereka berikan waktu tapi hanya dua hari. Tidak mungkin kita mau buat izin praktek hanya dalam waktu dua hari. Deadline kita itu sampai tanggal 10 jam 12. Biasanya dalam pengurusan sip itu butuh waktu lama. Tapi diusahakan oleh Kepala Dinas Sintap untuk ditandatangani. Nanti sekitar jam 3 ditandatangani oleh kadis. Setelah itu mereka sampaikan kita sudah tidak ada waktu. Padahal hanya lewat beberapa jam. Nilai kita juga saat itu sudah 74 tinggal tambah hasil penilaian dari kelengkapan tenaga sudah lewat standar penilaian. Surat perjanjian kerja sama kita ini sampai 15 Maret 2021. Kita pasrah saja nanti di Januari kita akan perbaiki semua. Karena kita tanda tangan kontrak 1 tahun punya. Kemudian muncul surat ditanggal 22 Desember. Dalam surat itu tertulis bahwa semua perjanjian kerjasama dengan rumah sakit di wilayah kerja cabang Tondano berakhir tanggal 31 Desember 2020. Sudah bukan 15 Maret. Kemudian yang akan melanjutkan kembali kerjasama di 2021 hanya yang memenuhi rekomendasi,” tandasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.