Pemilu 2024 untuk Siapa?

0
107
Abdul K Tulusang (Direktur KoFimu Vinus Bogor)
Abdul K Tulusang (Direktur KoFimu Vinus Bogor)

KLIK24.ID – Pemilu serentak 2024 sejatinya adalah pesta Demokrasi untuk rakyat, namun dari pemilu ke-pemilu apakah rakyat kehilangan pesta?

KPU RI telah melakukan peluncuran Tahapan pemilu pada 14 Juni 2022 pertanda tahapan pemilu di mulai.

seorang pria dari Kepulauan Sangihe di negeri ini, Abdul K Tulusang, memilih untuk menjalani hidup sebagai pemerhati Pemilu.

Dia memasuki ruang konfliktual itu dengan isi kepala yang seutuhnya unik. Dia memasuki pemilu sebagai tamu dalam sebuah pesta.

Sebagai pesta, pemilu jelas adalah perayaan yang diselenggarakan publik. Abdul menyadari hal itu dengan caranya sendiri.

Abdul merangkul banyak kalangan dalam pesta itu dan berdansa dengan mereka dari satu ke lain langkah.

Tapi, berbeda dengan banyak pemilih lain yang hanya selesai sebagai pedansa, Abdul selalu kembali pada tuan rumahnya, publik, untuk bertegur sapa.

Itulah kenapa Abdul bisa tampil di publik untuk mengingatkan kembali pada publik tentang Pesta Demokrasi yang sebenarnya.

Itulah juga kenapa dia, dengan indah dan luwes, bisa berpasangan dansa dari pemilih yang lainnya.

Itu pula yang membuat dia, dengan santai, melemparkan wacana untuk menyoroti pemilu serentak 2024 secara filosofis.

Lalu apa yang menarik dari gagasan Abdul K Tulusang pada pemilu 2024?

Pertama, pesan bahwa republik ini tak lagi punya pesta. Yang tersisa hanya perang. Konflik tak berkesudahan dari persaingan kepentingan pragmatis hingga perseteruan ideologis.

Permusuhan telanjang antarelite politik di tengah berbagai narasi eksplosif yang siap menghancurkan akal sehat kita sebagai satu bangsa.

Abdul memahami pemilu sebagai sebuah pesta, nyaris dalam pengertiannya yang paling harfiah.

Pemerhati Pemilu sebagai Putra daerah Sangihe ini menghadiri acara politik dengan tampilan seorang selebritas Hollywood dalam acara penyerahan piala Oscar.

Semata info, kita sudah kehilangan politisi dengan penampilan seperti ini sejak Soekarno digulingkan Soeharto.

Dan seperti juga Soekarno, Abdul punya jawaban yang sama atas risiko pilihannya untuk melawan penampilan populistis yang sedang marak saat ini.

Dia adalah putera daerah masyarakat kabupaten Kepulauan Sangihe, kira-kira demikian pikirannya.

Dan dia ingin masyarakat Indonesia melihat pemimpin mereka dalam tampilan yang tidak akan membuat mereka rendah diri di hadapan orang lain.

Pemilu di negeri ini, dan saya kira di mana pun di muka bumi ini, adalah juga persoalan penampilan para politisinya.

Jangan bilang bahwa kita tak tergerakkan oleh penampilan ala wong cilik dari Jokowi, atau pencitraan mati-matian Prabowo lewat penampilan, dan caranya berbusana yang meminjam citra founding fathers negara ini.

Tapi Abdul menilai bahwa sebuah republik tanpa pesta, sebuah republik yang sedang gagawang melihat para politisinya tampil dengan baju perang.

Karena itu, penampilan dan tingkah Abdul bisa memicu komentar nyinyir, jika bukannya kontroversi.

Padahal, di balik semua pandangannya itu, dia hanya ingin mengembalikan kita pada gagasan tentang pemilu sebagai pesta rakyat.

Dalam sebuah pesta, kita tidak membawa senjata. Dalam sebuah pesta, kita berupaya membangun pertemanan.

Dalam sebuah pesta, kita bergembira bersama-sama. Dan, yang lebih penting lagi, dalam sebuah pesta, kita menghormati tuan rumah.

Lalu siapa tuan rumah dalam pemilu 2024 sebagai pesta demokrasi?.

Gagasan abdul, pada titik terakhirnya, adalah sebuah ajakan untuk kembali melibatkan publik dalam proses pemilu.

Dan Abdul menyampaikannya dalam cara yang sulit dibaca oleh pikiran yang terobsesi pada segala yang lurus dan serius; pikiran yang menyingkirkan pesta dari pemilu di republik ini; pikiran yang, dalam istilah netizen kita, kurang piknik.

Catatan kedua dari daya tarik Argumen Abdul sebagai Pemilih; bagi dia politik/pemilu adalah kejujuran yang dikedepannya sebentuk sikap jujur yang sering kali tampak tidak taktis dan kurang menguntungkan bagi para politisi.

Tapi jika saat ini ada yang begitu urgen bagi publik untuk menyelamatkan republik ini, maka itu adalah seorang, dan cukup seorang saja, politisi yang mau bersikap jujur.

Jika kita secara acak meminta orang untuk menjelaskan politik, kebanyakan akan mengidentikkan politik dengan kebohongan.

Yang mencemaskan, sering kali identifikasi itu dianggap sebagai bagian tak terpisah dari definisi politik itu sendiri.

Artinya, pada satu tingkat, politisi pasti berbohong. Pada tingkat selanjutnya, wajar kalau politisi berbohong. Dan di tingkat akhir, politisi harus berbohong.

Kejujuran menjadi paria dalam dunia politik atau pemilu kita.

Àbdul tidak membantah persepsi kebanyakan orang itu. Bagaimanapun juga, kita sudah telanjur berada dalam silang sengkarut peristiwa berbangsa dan bernegara yang cenderung membenarkan identifikasi antara politik dengan kebohongan itu.

Tapi, sejak dulu, saya tak pernah kehilangan harapan untuk mencari kejujuran di dalam politik/pemilu.

Bukan ketololan yang tidak bisa membedakan antara kejujuran dengan kenaifan politis, tapi sikap jujur yang dimulai dengan keberanian untuk menjadi diri sendiri.

Abdul berharap dalam pemilu serentak 2024 Karenanya, setelah sekira sepuluh tahun, saya berani bilang bahwa apa yang dilakukan Politisi, dulu dan sekarang, adalah pameran kejujuran yang terlalu vulgar bagi situasi politik kita.

Dia terlalu jujur dengan dirinya sendiri, bahkan hanya untuk sedikit berpura-pura dengan citranya sebagai seorang politisi.

Tapi apakah secara politis hal itu merugikan? Dalam jangka pendek, jawabannya bisa pendek, iya.

Dalam jangka panjang, jawabannya bisa panjang. Abdul sedang menyadarkan kita untuk menjadi politisi yang menggunakan dirinya sendiri sebagai sumber daya perubahan.

Dan Abdul berharap ada para politisi melakukan itu hanya dengan bersikap jujur pada dirinya sendiri.

Berdasar teori akting, kekuatan terbesar pencitraan adalah memainkan peran dengan jujur. Temukan ekspresi dan penampilan yang kamu butuhkan bagi peranmu dengan jujur. Dan Abdul berharap itu tanpa harus belajar akting.

Kenapa? Karena apa yang para politisi lakukan, suka atau tidak, dia lakukan harus dengan jujur.

Dia hanya perlu melakukan apa yang biasa dia lakukan: ceria dan slenge’an. Berbusana sebagaimana dia biasa berbusana: anggun dan mencuri tatapan.

Singkat kata, tampil di mana saja sebagai dirinya sendiri. Tapi itu, seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, bukan tanpa risiko.

Politisi harus menjadi dirinya dalam dunia politik/pemilu yang menuntut orang untuk keluar dari dirinya sendiri dan memerankan seseorang yang bukan dirinya.

Misalnya, seorang pengusaha kaya anak pengusaha kaya yang tidak pernah mencium bau tanah, tapi harus bergaya seperti petani yang biasa berlumur tanah.

Itu membikin kita muak oleh akting yang dibuat-buat. Sadar atau tidak, Abdul ingin mengajak agar melawan hal itu.

Karenanya, dalam hal ini, Abdul berharap politisi harus menjadi personifikasi perlawanan terhadap pencitraan yang menampilkan kebohongan hanya untuk memenuhi tuntutan pasar politik.

Bahkan, jika kita membacanya dalam kerangka yang lebih ideologis, Abdul sesungguhnya ingin mengajak kepada publik untuk melakukan perlawanan terhadap kecenderungan yang tengah mengemuka dari model politik kurang piknik.

Sebuah model politik yang berani saya pastikan akan menjerumuskan republik ini ke dalam perpecahan dan perang sipil.

Sebentuk politik tanpa ruang abu-abu yang selalu melihat apa yang benar sebagai putih bagi hitamnya kesalahan.

Sebentuk politik dengan narasi kemanusiaan tanpa manusia di dalamnya.

Sebentuk politik yang telah mencuri pesta dan penampilan anggun para politisi seperti kebanyakan politisi dari republik ini. (***)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.