Seperti Apa Negeri Impian Buya Maarif?

0
110
Abdul Kadir Tulusang

PERTANYAAN Kompas ini tidak berarti jika tidak berhubungan dengan kita.

Kompas sendiri dan masing-masing kita pernahkah menguji kualitas hidup kita dengan pertanyaan itu:

“Seperti apa negeri impian Kompas? Seperti apa negeri impian dan masa depan ideal Anda?”

Pertanyaan ini hanya dan hanya berarti bagi orang yang punya mimpi, mau dan berani bermimpi.

Orang Indonesia punya mimpi, bahkan oleh Soekarno diberanikan untuk mau bermimpi hidup merdeka.

Tentu sekedar mimpi tidak cukup, sama tidak cukupnya punya Pancasila dan berteriak “Saya Pancasila”. Tidak cukup.

Alhasil, pertanyaan di atas itu filosofis, paling jadul sekaligus paling mantul. Sejak awal kali nama filsafat dikenalkan Sokrates.

Bersama muridnya, Platon, filsafat digagas di bumi hanya dan utamanya untuk menjawab pertanyaan tadi. Filosof ini mengusahakan wujud nyata negeri impiannya dengan segenap resiko pikiran dan nyawa.

Untuk apa berfilsafat? Jawaban filosof sama dengan Tuhan-nya orang Islam menjawab pertanyaan, “Untuk apa kita hidup di bumi, dan untuk apa kita beragama?”, yaitu untuk jadi wakil kekuasaan (khalifah) Dia di bumi dan membangun *surga di dunia* dengan (1) pengetahuan (allamal adam asma’) dan (2) keteguhan/kemauan (istiqamah/iradah).

Kira-kira bisa diraba-raba siapa orang-orang yang merasa terancam dengan jawaban ini, seperti juga sudah bisa membayangkan siapa saja pihak-pihak yang tersinggung oleh konsep negeri impian Buya Maarif.

Karena berbekal pengetahuan, filsafat menentang popularitas (selebritas) dan kekayaan (oligarkia) diunggulkan. Karena keteguhan dan kemauan, filsafat juga menentang pemikir yang hanya pandai berteori, menulis, berpidato dan mendeskripsikan dunia serta masa depan.
Sudah sepenuhnya tepat bila Marx menyindir para filosof yang hanya menafsirkan dunia namun tidak hadir dalam medan konflik dan di luar agenda mengubah dunia.

Sekedar berpikir, berteori, menulis, berpidato dan berseminar saja tidak akan mengubah dunia untuk menghadirkan surga di dalamnya, tak ubahnya dengan hanya menggosok gigi dan berkumur tanpa memuntahkan. Tersisa hanya busa pasta gigi bercampur kuman di ambang tenggorokan.

Pemikir dan filosof sejati adalah pejuang sampai mati. Tidak banyak filosof jenis ini, karena boleh jadi, seperti kebanyakan orang, lebih memilih hidup di zona aman.

Setiap pilihan ada resikonya, dan seriko menentukan nilai pilihan. Semakin resiko serius, semakin pilihan kita serius. Seperti kata Ali bin Abi Thalib, tidak ada resiko yang lebih serius dari kematian.

Filosof memang bukan nabi, kendati nabi itu pasti filosof. Sama dengan nabi, filosof seperti Platon dan Suhrawardi mengabdikan pengetahuan dan kebijaksanaannya untuk meyakinkan dan membangun manusia sempurna, dunia surgawi dan negeri impian dengan resiko dan ongkos tertinggi: mati atau terancam mati.

Yang tidak punya mimpi atau tidak mau bermimpi dan mengganggap mimpi itu utopis, maaf saja, bukan filosof, bukan filsuf, apalagi ulama, karena bermimpi ingin dan jadi manusia sempurna saja sudah gagal.

*Dunia kita adalah pikiran kita*. Dunia kita adalah cermin dari kualitas pikiran dan keyakinan kita.

Mimpi buya tidak muluk-muluk: sekedar berdaulat dan tidak korupsi, tidak seberapa dari impian filosof. Tapi, dua ini saja sudah nyata dan tepat disebut utopis dan muluk-muluk sepanjang bangsa dan elitenya menjalani era reformasi.

Kita yang harus memperpanjang tidur dan mimpi kita sampai 2050 seperti berada di ujung hidung lokomatif “kemerdekaan” sambil memperbaiki rel bercucur peluh dan keluh, sementara di atas gerbong segelintir elite, seperti jajaran kapten kapal dalam parodi Sokrates, berpesta pora atas nama demokrasi dan konstitusi.

Kita bebas menjatuhkan pilihan: mau terus menjalani hidup dan berindonesia dalam posisi di bawah lokomotif atau di atas gerbong. Asal kita tetap yakin masih ada, bahkan di group ini, mengambil pilihan out of the box, di luar dari dua posisi kebinatangan dan keiblisan tadi. Kalau tidak berminat jadi Tuhan dan khalifah-Nya, setidaknya mempertahankan diri tetap jadi manusia, sekedar jadi manusia mulia, merdeka dan berdaulat.

SELAMAT HARI LAHIR PANCASILA

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.