Menara Tower PT Avocet dan PT Telkom Disoal Pemilik Lahan

0
20
Menara tower PT Avocet dan PT Telkom di Desa Tobongon. (F : Istimewa)

Klik24.id, BOLTIM – Dua menara tower masing-masing milik PT Avocet dan PT Telkom, di Desa Tobongon, Kecamatan Modayag, kini menuai masalah. Pasalnya, lokasi pembangunan tower milik PT Avocet berbeda dengan titik yang disepakati dengan pemilik lahan Ronny Pandean, warga Kelurahan Gogagoman, Kecamatan Kotamobagu Barat. Sedangkan, pembangunan menara tower milik PT Telkom, hingga tower beroperasi tidak ada persetujuan dengan pemilik lahan.

Ronny Pandean menjelaskan, dirinya membuat kesepakatan dengan Saiful yang merupakan karyawan PT Avoced, terkait titik pembangunan menara tower. Namun, hingga menara selesai dibangun pihaknya tidak menerima informasi dari perusahaan sejak memulai pembangunan menara. Begitu juga pihak pemerintah desa tidak pernah dihubungi perusahaan saat pembangunan menara tower.

“Posisi Tower berdiri harusnya bukan disitu, padahal saya sudah mengingatkan untuk melibatkan saya agar tidak salah titik lokasinya. Karena lokasi yang saya maksud adalah di lokasi belakang tower. Bukan dimana tower berdiri saat ini dan ukurannya pun hanya seluas 20×20 meter. Sebab, titik menara saat ini sudah ada rencana saya kedepan untuk pemanfaatan lahan itu, karena dekat jalan raya,” terang Ko Une—sapaan akrab Ronny—.

Tak hanya itu, dirinya dibuat kaget saat mendapati menara tower milik PT Telkom yang berada di dekat tower milik PT Avocet. “Yang ada persetujuan dengan saya sebagai pemilik layan hanya PT Avocet. PT Telkom tidak ada izin dari saya sebagai pemilik lahan,” bebernya.

Menurutnya, penentuan titik pembangunan menara tower perusahaan tidak pernah dikuasakan kepada siapapun, selain dirinya sebagai pemilik lahan yang memutuskan. “Saya tidak pernah memberi kuasa kepada siapapun untuk menunjuk lokasi pembangunan tower tersebut. Kalau memang lokasinya tepat seperti yang ada sekarang, maka tidak mungkin mereka harus membebaskan jalan lagi sampai ke posisi tower saat ini, karena posisinya tidak jauh dari jalan raya. Tentunya lokasi yang saya maksud sebenarnya ada jauh di belakang tower,” urainya.

Sementara itu, Sangadi Desa Tobongon Muhamad Elyas mengakui, pihak perusahaan tidak pernah melaporkan aktivitas pembangunan Tower, kepada pemerintah desa.

“Saya sudah hampir 20 tahun menjadi sangadi disini, dan memang benar kalau lokasi tersebut milik Ronny Pandean, yang bersertifikat, dan yang satunya lagi Baru berupa SKT yang juga sedang dalam pengurusan sertifikat,” tutur Sangadi.

Menanggapi hal itu, mantan supervisor PT Avocet, Saiful mengatakan, lokasi menara tower tersebut merupakan lahan milik Ronny Pandean yang dibeli perusahaan dengan Harga Rp3,5 juta, dengan luas sekira 20×20 meter, pada 2004.

“Transaksi jual beli, sebidang tanah dengan luas 20X20 meter atau 30X30 kita lakukan di dalam toko milik Ronny. Terkait dengan tidak mengundang Pak Ronny, itukan ada orang kebun di lokasi, mungkin dia orang kepercayaannya, makanya kita lansung menghubungi dia,” jelas Saiful.

Ditanya soal koordinat pembangunan menara, dirinya menerima informasi dari tenaga IT jika lokasi pembangunan tower sudah benar. “Terkait dengan Koordinat, mungkin Ronny belum terlalu paham, sehingga yang menjadi acuan kita adalah, sesuai penyampaian saya ke dia bahwa posisi tower yang akan kita bangun, ada Pohon Cengkih dan jaraknya sekitar 60 meter lebih dari jalan raya,” ungkapnya.

“Kita juga sempat kesulitan akses jalan untuk memasukkan material, makanya kita juga membayar lahan luasnya satu meter untuk bisa masuk ke lokasi tersebut,” jelasnya. (tr-2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.