Dugaan Pungli Ijazah Paket, Dechrin: Itu Tidak Benar

0
28
Dechrin Ginoga (Kepala SKB Tutuyan)

Klik24.id, BOLTIM – Dugaan Pungutan liar (Pungli) di lingkungan belajar non formal paket B dan C, di Boltim terus menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Bahkan, peserta belajar hanya membayar Rp1,5 juta sudah bisa mendapat ijazah tanpa mengikuti ujian.

Menanggapi hal itu, Kepala Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Tutuyan, Dechrin Ginoga menampik hal tersebut. Ia mengaku, tidak ada praktek pungli di lingkungan belajar non formal baik paket B maupun C.

“Tidak benar ada pungli di SKB yang saya pimpin. Ini cuma mis informasi, jadi sangat tidak benar mama (sapaan akrab AT) minta-minta uang atau menjamin ijazah.

Buktinya sampai saat ini peserta kesetaraan sendiri, ijasah mereka belum ada di tangan kami. Jadi ini perlu mama luruskan,” terangnya.

Menurut Dechrin, pengumpulan dana kepada peserta belajar atas kesepakatan bersama. Dana tersebut untuk kebutuhan peserta belajar, seperti kebersihan gedung dan halaman SKB.

“Itupun untuk kebersihan, sewa kursi dan konsumsi jika peserta kesetaraan dikumpul di SKB, tidak ada Pungli kalaupun ada mungkin itu person saja secara institusi saya sebagai pimpinan tidak membenarkan itu,” ucapnya.

Sebelumnya, salah satu peserta belajar membeberkan aksi liar para oknum guru yang diduga melakukan praktek Pungli. Oknum guru berinisial AT kerap mengatakan kepada peserta belajar, jika ingin ijazah paket B dan C tanpa harus duduk untuk belajar, harus membayar Rp1,5 juta.

“Dengan meminta uang sesuai dengan kesepakatan antara guru dan siswa, sudah bisa mendapatkan ijazah paket B ataupun C, itu bagi yang tidak sempat duduk belajar dan mengikuti ujian. Hal ini menjadi hal lumrah,” urai sumber yang tidak ingin dipublikasi namanya, mengutip perkataan oknum guru.

“Itu ibu (AT) bilang semua boleh, tergantung suntikan,” beber sumber yang tak ingin namanya disebut, belum lama ini.

Sementara itu, oknum guru AT tidak membantah hal tersebut. Menurutnya, sejumlah uang yang dibebankan kepada pelajar berdasarkan kesepakatan sekira Rp300 ribu hingga Rp500 ribu.

“Siswa boleh mengganti susulan mata pelajaran yang tidak lulus, dengan sejumlah uang berdasarkan kesepakatan,” akunya.

“Amanat dari atasan sebagai pengumpul dana perbaikan nilai mata pelajaran yang disetor para siswa. Dana tersebut mengalir juga ke guru lain, pemegang mata pelajaran. Karena memang saya yang admin waktu itu, Bos percayakan. Saya beri ke guru ini, saya catat,” bebernya. (tr-2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.