Mualaf Desa Sia’ Bangun Masjid Al Hidayah

0
79
Masjid Al Hidayah yang dibangun para mualaf Desa Sia'. (F : Sutha/Klik24.id)

KOTAMOBAGU – Belum lama memeluk Islam, para mualaf di Desa Sia’, Kecamatan Kotamobagu, kini membangun Masjid Al Hidayah, yang dalam waktu dekat ini sudah bisa dimanfaatkan para jemaah untuk salat dan kegiatan keagamaan lainya.

Masjid Al Hidayah dalam tahap pembangunan (F : Sutha/Klik24.id)

Masjid Al Hidayah terletak di Dusun Satu, Rukun Tetangga (RT) Satu ini, merupakan masjid pertama dibangun di Desa Sia’, salah satu kampung yang berada di batas daerah Kota Kotamobagu dan Bolaang Mongondow. Berkat perjuangan panjang dan modal nekad, para mualaf berhasil membangun masjid yang kini pembangunannya mencapai sekira 80 persen.

“Penantian kami sudah lama, sebab administrasi pembangunan masjid harus memenuhi persyaratan. Dan Alhamdulilah mulai dari lahan pembangunan masjid adalah wakaf dari mualaf Desa Sia’,” tutur Herni Sumilat, Ketua Panitia Pembangunan Masjid Al Hidayah atau juga dikenal warga Masjid Mualaf Desa Sia’.

Masjid Al Hidayah berada di Dusun 1, Rt 1 Desa Sia’, Kecamatan Kotamobagu Selatan. (F : Sutha/Klik24.id)

Setelah semua administrasi selesai, para mualaf memulai pembagunan masjid pada Februari, lalu. “Pembangunan dimulai Februari lalu. Selama pelaksanaan pembangunan, kami dibimbing oleh Baznaz Kotamobagu, para donator yang menyumbangkan material bahan maupun dana untuk pembangunan masjid,” terang mantan Sangadi Desa Sia’.

Herni mengaku, masih beberapa fasilitas masjid dalam tahap pekerjaan. “Fasilitas yang harus kita bangun adalah tempat Wudhu, WC dan fasilitas air. Untuk kebutuhan air masjid sudah ada donatur yang menghubungi kami panitia. Yang masih kita upayakan adalah tempat Wudhu dan WC. Bagi ada masyarakat yang ingin menjadi donatur hubungi 081244512621 atau langsung mendatangi Masjid Al Hidayah Desa Sia’,” tutur Herni.

Lanjutnya, saat ini jumlah mualaf di Desa Sia’ sebanyak 10 Kepala Keluarga. “Yang memeluk Islam ada 10 KK, kalau dihitung sekira 27 orang. Saya mualaf paling lama, yang lain itu ada yang baru dua tahun hingga tiga tahun,” jelas Sumilat.

Ia menceritakan, para warga yang baru memeluk tanpa unsur paksaan atau dorongan tertentu. “Mereka yang datang ke rumah. Bahkan, beberapa orang saya sarankan pulang dulu, jika sudah yakin datang lagi ke rumah. Bagi warga yang sudah yakni memeluk agama Islam, langsung mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Imam dan diajarkan salat hingga membaca Alquran,”

Sumilat menambahkan, keberadaan Masjid Al Hidayah merupakan corak keberagaman di Desa Sia’. Perbedaan keyakinan bukan sekat bersosial melainkan satu ragam yang memberikan nuansa persatuan. “Disini kami saling bantu-membantu satu dan lainnya, bahkan beberapa saudara kami dari Kritiani datang bekerja bakti di masjid, begitu pun kita jika ada kerja bakti di gereja kita juga ikut membantu,” ungkap Herni. (tr-1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.