Surat Terbuka Untuk Bupati Boltim

0
249
Oleh : Chendry Mokoginta

Kepada Yth:
Pemimpin Rakyat Boltim
Sam Sachrul Mamonto S.Sos
Di –
Boltim.

Dengan hormat, dengan melihat kondisi terkini di Kabupaten Boltim, saya Chendry Mokoginta, menganggap patut untuk melayangkan surat terbuka ini.

Assalamualaikum Wr Wb.
Semoga Tuhan Yang Maha Besar Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk kepada Anda yang kini mendapat amanah sebagai Bupati Kabupaten Bolaang Mongondow Timur 2021-2024, aamiin.

Sebagai rakyat Boltim yang tidak memilih Anda di Pilkada 2020 lalu, Saya harus berulang kali berfikir untuk menuliskan surat terbuka ini kepada Anda.

Entah dari mulut siapa pesan surat ini akan tersampaikan di telinga Anda, saya hanya berharap agar keluh kesah kami rakyat Boltim dapat anda ketahui. Sekedar diketahui tanpa disikapi pun, kami merasa bersyukur.

Pilkada telah usai, Anda telah resmi menjadi pemimpin di daerah ini. Kami yang tak memilih Anda mengakui bahwa kemenangan dan rejeki dari Allah SWT kali ini berpihak kepada Anda.

Patut Anda sadari bahwa Kami yang tak memilih Anda lebih besar jumlahnya ketimbang yang telah memilih Anda di Pilkada baru-baru. Namun kami belum berencana menjadi kelompok oposisi, sebab menurut kami kompetisi yang sehat sudah dilalui dan melahirkan pemimpin terbaik pilihan rakyat, dan tentunya pilihan Allah SWT.

Di awal pemerintahan Anda, angin segar berhembus ke telinga masyarakat Boltim, pidato perdana Anda yang menekankan bahwa tidak lagi ada perbedaan (pandangan politik), karena Pilkada telah usai, menurut kami adalah statemen yang menyejukkan. Ini pintu konsolidasi yang tepat. Kami berpikir Anda memahami bahwa orang-orang yang tak memilih Anda tak pantas disalahkan. Justru Andalah yang gagal merebut hati dan rasa simpati dari mereka.

Situasi belakangan terjadi, rencana (Sebagian kecil sudah terjadi) pecat memecat Aparat Perangkat Desa secara massif dan brutal akhirnya tak terhindarkan. Ada dalih bahwa ini atas perintah Anda. Jelas hal itu membuyar harapan tentang lahirnya pemimpin yang demokratis di daerah ini. Aksi pemecatan Perangkat Desa secara massif ini bak melanjutkan jargon pendahulu Anda, Sehan Landjar, kala itu: Menang Berkuasa Kalah Berpuasa.
Tapi perlu diingat, Sehan pada 2015 lalu dipilih lebih dari 50 persen pemilih Boltim. Sehingga kebijakan apapun yang diambil Sehan waktu itu, akan mendapat dukungan dari mayoritas pemilih Boltim.
Sedangkan Anda di Pilkada baru-baru tak mencapai persentasi itu. Artinya, Anda tak akan sanggup menyamai Sehan Landjar saat masih berada di panggung kekuasaannya. Maka wajarlah jika kedepan rakyat Boltim akan membandingkan kepemimpinanmu saat ini dengan masa Sehan Landjar. Sebab, akan tidak lucu ketika rakyatmu sendiri yang bergumam: Lebe bi’ mopira waktu Ki Eyang (lebih bagus dimasanya Eyang-sapaan akrab Sehan Landjar).

Kami memaklumi bahwa tindakan pecat memecat aparatur desa, mencopot jabatan ASN, memindahtugaskan ASN, sudah menjadi hukum alam di tiap kontestasi politik. Namun, semua ini perlu didasarkan pada alasan-alasan normatif, bukan politis, apalagi balas dendam.

Lihat saja insiden pemecatan kepada salah satu guru PAUD di desa Kotabunan Barat Kecamatan Kotabunan pada 29 Maret lalu, ini menjadi catatan buruk di awal pemerintahan Anda saat ini. Seorang guru (yang mungkin digaji tak sesuai UMP) harus menerima surat pemecatan dari seorang Sangadi (Kepala Desa) hanya atas dasar aduan dari pihak yang mengatasnamakan tim pemenangan. Terkaan kami tidaklah keliru, motif utama pemecatan itu karena perbedaan pilihan Politik. Sangat disayangkan, redaksional surat pemecatan yang diteken oleh Sangadi dan diberi cap basah itu, akhirnya merusak wibawa pemerintah. Sebab ikut menyertakan tandatangan pihak yang mengatasnamakan tim pemenangan. Saya tak mau menyalahkan (mantan) tim Anda sebab pemecatan itu adalah kewenangan Sangadi. Tapi dengan adanya pelibatan tim, Sangadi seakan ingin mempertegas bahwa pemecatan ini bukan kemauannya semata.

Untuk itu, perlu pembuktian jika Anda tak menginginkan model pemerintahan semacam ini maka sangat tepat jika Sangadi yang bersangkutan dijewer supaya kedepannya lebih teliti lagi di urusan administrasi.

Hal lain yang perlu saya ungkap di sini. Untuk menghindari terjadi kesalahan seperti yang dipertontonkan Sangadi Kotabunan Barat tadi, ada oknum Sangadi yang mengintimidasi sejumlah Perangkat Desa agar menandatangani surat penyataan pengunduran diri. Perangkat Desa yang sedang aktif melaksanakan tugas pelayanan, dipaksa menandatangani surat pengunduran diri dengan dasar mengalami sakit (berhalangan tetap sehingga memenuhi kriteria penggantian perangkat desa). Padahal yang bersangkutan dalam kondisi sehat jasmani dan rohani. Mereka seperti diberikan belati dan diperintahkan bunuh diri. Aksi ini memiliki motif yang sama, polanya saja yang berbeda.

Kami tak perlu menyalahkan siapapun dibalik rentetan kejadian itu. Saya percaya, Anda sendiri tak mengharapkan hal semacam itu terjadi. Kami yakini, Sam Sacrul Mamonto, ingin (dan seharusnya) menjadi pemimpin bagi seluruh rakyat Boltim, baik yang memilihnya maupun bagi yang tidak memilihnya, seperti saya. Bukan pemimpin kelompok tertentu.

Bagi kami, tak ada pilihan lagi, kecuali menyampaikan keluh kesah ini kepada Anda. Kami tak punya kemampuan untuk menghalau rencana pemecatan para perangkat desa oleh para sangadi. Meski motif sebenarnya rencana ini sudah terlanjur bocor ke publik.

Saya hanya berpesan, jika benar-benar pembunuhan karir perangkat desa ini harus terjadi, maka “bunuhlah” mereka dengan cara manusiawi dan terhormat. Berkonsultasilah ke Sehan Landjar tentang bagaimana cara membunuh tanpa melukai. Jika enggan, maka lindungilah mereka. Sebab, mereka adalah rakyatmu bukan musuhmu.

SEKIAN.
Wassalam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.