Mama Kur, Joker

0
152
Hairil Paputungan

MAMA Kur adalah Joker. Di Pemungutan Suara Ulang (PSU) TPS 1 Kelurahan Upai. Caleg Partai Golkar Daerah Pemilihan (Dapil) 1 Kotamobagu Utara-Timur, ini kunci lompatan suara Danny Iqbal Mokoginta. Dari Pemilu reguler 10 suara. Menjadi 90 suara di PSU Sabtu, 27 April. Itulah sebabnya, pada Celoteh Edisi Jumat 26 April, saya menyebut Rensa Bambuena kartu As. Bukan Joker. Saat itu saya risih akan menulis Mama Kur sebagai Joker. Maklum, pemilik nama lengkap Riana Sari Mokodongan, itu se partai dengan saya, Golkar. Juga incumbent. Juga orang Upai. Pemilik suara terbanyak TPS I di Pileg 17 April. 38 suara.

Setelah PSU, saya berani menulis Jokernya adalah Mama Kur.

Masni Mamonto, saingan berat Danny di internal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) harus menerima kenyataan pahit. Perolehan suaranya dilampaui Danny. Dari sebelumnya selisih 52 keunggulan Masni. Kini berbalik 22 suara keunggulan Danny. Pada Pileg 17 April, Danny menyegel 10 suara. PSU Sabtu 27 April menambah 90 suara. Masni, pada 17 April nihil suara. Di PSU mengais 26 suara. Sebelum PSU, suara Danny hanya 868. Masni unggul 920 suara. Keunggulan itu kini lenyap. Hampir dipastikan, Danny, yang incumbent, jadi pemilik satu-satunya perolehan kursi PKB di Dapil 1 Timur-Utara.

Posisi akhir, Danny 968 dan Masni 946.

Mengapa Mama Kur jadi ukuran? Ceritanya simpel. Dalam hitungan suara internal PG Dapil Timur-Utara, Mama Kur tidak lagi berpeluang ke dewan. Bila pun ia ngotot, lebih memperkokoh Herdi Korompot.  Satu-satunya wakil PG di Dapil itu yang sukses menyegel kursi. Pada PSU TPS I Upai, Herdi sudah tidak perlu risau. Apapun hasilnya, kursinya tidak goyah. Danny dan PKB sadar itu. Bahwa Mama Kur bakal jadi kunci. Terutama bagi 261 konstituen yang tercatat pada Daftar Pemilih Tetap (DPT) TPS 1 Upai. Selaku sesama putra-putri Kotamobagu ‘bagian atas’ –tulis saja begitu ketimbang mendikotomi Pasi-Lolayan, sentiment Mama Kur lebih dekat ke Danny. Ketimbang Masni Mamonto yang orang ‘Dampig Muik’. Begitu istilah orang kita menyematkan status domisili. Afiliasi ‘Dampig Muik’ atau Orang Timur, lebih ke Selatan (Lolayan). Pakai logika saja. Hubungan emosional. Tanpa dan maupun dengan pendekatan, Mama Kur akan membuka jalan bagi Danny. Beda bila Masni segaris partai dengan Mama Kur. Tak perlu dikomando, kepentingan Partai akan ia kedepankan. Tidak memandang wilayah dan domisili. Sayang, Masni se partai dengan Danny. Maka, tanpa saya tulis pun Mama Kur sudah ter-image, mendorong Danny ketimbang Masni.

Masni, yang juga istri Sangadi Moyag (Induk) bukan tanpa gerakan. Sadar nasibnya dipertaruhkan di kandang ‘lawan’,  Mama Vinny, panggilannya enggan menyerah. Ia sukses memetik 26 suara. Tanda bahwa Masni juga bertempur habis-habisan. Karena pada Pileg reguler 17 April, tak satu-pun suara di TPS itu. 26 suara tidak akan muncul begitu saja bila hanya diam.

Bual-bual –meminjam istilah teman-teman di facebook— semua kalangan dalam menyikapi PSU TPS 1 Upai, juga demikian. STanyaelisih 52 suara akan mudah bagi Danny bila ia mengusung slogan sesama ‘Dampig Monik’. Sebaliknya itu petaka buat Masni. Tidak perlu harus semua. Cukup ‘mengamankan’ 100 suara, Danny kembali melenggang ke dewan. Memupus asa Masni yang dijagokan Moyag Bersatu.

Kemana Rensa? Tentu saja ia ada di kubu Rustam Simbala. Dengan selisih 8 suara dengan Caleg PPP, Supardi Baso, bukan pekerjaan sulit baginya mengamankan kompatriotnya di line up PDI-P Dapil Timur-Utara.

Rensa anomali dari sentimen wilayah itu. Walau sesama utara, jika menyangkut kepentingan partai, Rensa pasti ngotot membantu Rustam. Itulah sebabnya, saya menulisnya sebagai Kartu As. Bukan Joker. Apalagi lawan Rustam tidak masuk hitungan. Supardi Baso, caleg PPP nyaris lenyap dari amatan publik.

Jadi tidak perlu khawatir. Bahwa faktor domisili lebih kuat magnetnya ketimbang se partai. Setidaknya Rensa membuktikan itu. Orang Biga ini, yang juga Caleg PDI-P Dapil Timur-Utara mengenyampingkan dikotomi wilayah. Full support ke Rustam, yang orang Matali, lekat dengan Lolayan.

Rensa dan PDI-P diuntungkan oleh pertarungan sengit Danny-Masni. Bila di bagian atas naskah ini, masih terdapat sentilan dikotomi Pasi-Lolayan, Rensa tampil memberi penawar. Garis partai akan lebih dominan ketimbang muasal domisili. Setidaknya, ini memberi pembelajaran, sudah saatnya meninggalkan pengistilahan domisili yang hanya akan membuat pengkotakkan dalam masyarakat. Pengecualian pada Masni dan Danny, yang terlibat ‘perang saudara’ internal PKB.

Jangan menuding Mama Kur memihak. Karena emosinya lebih ke Danny. Bebannya berkurang sebab Masni-Danny se partai. Lantas ia berafiliasi ke Danny, saya percaya itu manusiawi.

Kuncinya tetap di tangan konstituen. Walau yang balik ke TPS tersisa 230-an orang, lebih dari cukup untuk yang bersaing melakukan pendekatan.

Saya tidak kaget bila PSU TPS 1 Upai adalah ladang emas buat Danny membalikan hitungan perolehan suara.

Manuver caleg lain menjadi sekadar bumbu saja. bukan adonan utama. Danny, yang orang Pontodon, patut berterima kasih kepada orang Upai. Deretan perseteruan dua kampung tetanggaan ini diyakini segera mencair. Danny dan Mama Kur perekatnya. Bukan rahasia lagi bila dalam kurun waktu belakangan ini, bibit perseteruan Upai-Pontodon jadi konsumsi publik. Masalah sepele bisa merembet hingga ke lingkup keluarga. Maka, ketika Mama Kur tampil ‘mensupport’ Danny, tensi Upai-Pontodon diyakini mereda.

 Sempat diragukan bakal vakum di arena PSU, Mama Kur nyatanya keluar kandang. Usaha Danny yang tiada kenal lelah merangkul konstituen TPS 1 juga patut diacungi jempol. Ditambah magnet Mama Kur yang adalah ikon Upai, makin lengkap kolaborasi ini. Meski begitu, keuletan Masni menerobos sarang lawan, yang membuahkan 26 suara layak diberi apresiasi.

Di luar perjuangannya, sejatinya Danny dinaungi Dewi Fortuna. Saya teringat PSU TPS 7 Mongkonai 5 tahun silam. Yang akhirnya menguntungkan posisi Anugerah Beggy Ch Gobel (PAN) dan Reggy Manoppo (Demokrat).

Pileg tahun ini, Beggy dan Reggy juga masih sukses mempertahankan kursi. Saya pun harus rela menerima tonte’ek dan poleke’ Danny, Beggy dan Reggy karena gagal menyusul mereka ke gedung Paloko-Kinalang haha. Aisssiiyaaap Pak Dewan. Selamat menunggu Pleno KPU 22 Mei.***

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.