‘Getar Cinta’ dan ‘Kopasus’ di Balik Penurunan Stunting di Bolmut

0
441

Klik24.ID-Angka stunting di Kabupaten Bolmut mengalami penurunan. Pada tahun 2016 angka stunting mencapai 43,8 persen, ditahun 2017 turun menjadi 36,8 persen pada tahun 2018 turun lagi menjadi 22,4 persen. Dengan demikian berarti dalam kurun dua tahun angka stunting turun 21,4 persen.

Menariknya Menkes RI Nila Moeloek mengapresiasi penurunan stunting di Kabupaten Bolmut dalam kegiatan Rakerkesda Provinsi Sulut tahun 2019 yang digelar di Grand Kawanua International convention center Manado, yang digelar beberapa hari yang lalu.

Bolmut sendiri memiliki Inovasi Daerah tentang pencegahan stunting di Bolmut. Inovasi tersebut diberi nama Getar Cinta (Gerakan Terpadu Cegah Stunting Balita) dan Kopasus (koordinasi terpadu khusus).

Kepala dinas kesehatan Bolmut Jusnan Mokoginta mengatakan untuk atasi prevalensi stunting (Balita Pendek) World Bank sudah mentargetkan turun 2 persen setiap tahun hingga tuntas tahun 2030. “Sesuai Copenhagen Consenssus dan Scalling Up Nutrition yang menjadi komitmen Global kita semua,”ungkapnya.

Dikatakannya, Bolmut berhasil menurunkan angka dari 43,8 persen ditahun 2016 menjadi 22,4 Persen di tahun 2018. “Angka ini mendekati angka IDEAL dari WHO yaitu 20 persen. Artinya bukan hanya 2 persen tapi 7 persen setiap tahun angka Stunting turun di Bolmut,”ujarnya.

“Padahal kita tahu sebelumnya di Bolmut paling banyak koleksi balita stunting. Capaian ini bisa melampaui daerah-daerah lain yang ada. Kenapa? Karena kami sudah menciptakan fundamen kesehatan yang relatif kuat melalui upaya Intervensi spesifik dan sensitive bahkan juga sampai dengan upaya-upaya komunikasi,”jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinkes Bolmut, Ally Dumbela mengatakan, stunting di Bolmut mengalami penurunan. “Karena sesuai hasil riset kesehatan dasar, dalam tiga tahun terakhir, Kabupaten Bolmut turun drastis soal penekanan angka stunting,”jelasnya.

“Memang saat ini kami turun di desa-desa untuk melakukan sosialisasi soal Stunting,”ungkapnya.

Disisi lain, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Fadly Usup, mengatakan di Bolmut seluruh desa bisa menangani persoalan stunting. “Tentunya melalui anggaran dana desa. Selain itu bukan hanya 10 desa prioritas,”ujar Usup.

Menurut, mantan Camat Bolangitang Barat ini, melalui Dandes juga ada tim yang dibentuk di desa-desa soal menangani stunting. Yaitu Kader Pembangunan Manusia (KPM). “Nah KPM ini bisa mencatat, mengetahui berapa bayi, bersama ibu hamil, hingga melahirkan di desa mereka,”ujarnya.

Dikatakannya, selain itu berapa jumlah yang ikut posyandu juga akan diketahui. “Tentunya melalui kader posyandu yang ada di desa-desa Kabupaten Bolmut,”ungkapnya.

Sebelumnya, Wakil Bupati Bolmut Amin Lasena mengatakan masalah stunting sangadi harus sampaikan ke masyarakat. “Terutama nasehat pernikahan soal stunting, saya menargetkan dari 30 persen harus turun 10 persen dalam dua tahun akan datang,” tegas Lasena.

Wakil Bupati mengatakan Bolmut masuk 100 Kabupaten dan Kota Prioritas percepatan penanggulanga, pencegahan Stunting. “Itu artinya Bolmut masuk Kabupaten yang masi tinggi persentase Stuntingnya,” ujarnya.

Dikatakannya, nah mulai tahun 2019 harus ada gerakan intervensi penurunan stunting yang terintegrasi pemerintah pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota, sampai desa. “Ada lima intansi yang wajib berkolaborasi untuk program ini, Kesehatan, Pendidikan, PUPR, PMD, dan Bapelitbang,” ungkap Lasena. (Fan)

Jumlah Kasus Stunting di Wilayah Lokus Kabupaten Bolmut Sampai Bulan Februari 2019

Kecamatan Sangkub
Sangkub Timur, 21 kasus
Monompia, 2 kasus
Sangkub II, 6 kasus

Kecamatan Bolangitang Timur
Biontong, 8 kasus
Biontong, 3 kasus
Bohabak I, 13 kasus
Saleo, 9 kasus
Saleo I, 13 kasus

Kecamatan Bolangitang Barat
Ollot II, 4 kasus
Paku Selatan, 20 kasus

Total 99 kasus

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.