Dan Akhirnya Masuk Dunia Politik

0
174
Hairil Paputungan

REFORMASI mengubah haluan politik banyak aktivis.  Beberapa memilih masuk partai politik. Termasuk teman-teman wartawan. Saya tak tergiur. Dua parpol yang getol menarik saya, PDIP eranya Freddy Sualang dan Partai Golkar zamannya AJ Sondakh. Kala itu, PDIP sedang naik daun. Dan Partai Golkar masih punya taji. Walau banyak partai baru bermunculan, baru dua yang menyembul. Partai Kebangkitan Bangsa-nya Gus Dur dan Partai Amanat Nasionalnya Amien Rais. PKS juga mulai tebar pesona. Sementara PDS, yang melirik konstituen non muslim, ikutan merangsek.

Saya punya jawaban tegas. Untuk politik? ….tidak…! Titik…!!!

Masih merasa bahwa politik itu kotor. Padahal saya ditempa, jika tidak ingin disebut ‘dipaksa’ menggeluti desk politik. Saya tidak bisa bohong. Bahwa kerusuhan Semanggi masih amat membekas. Seperti trauma dengan salah satu kesatuan di tubuh TNI. Dengan baret warna tertentu. Termasuk trauma dengan salah satu Panglimanya. Kala itu, mendengar nama sang Panglima, entah kenapa, kami langsung kumpul dan menghitung wartawan peliput. Jangan-jangan sudah berkurang satu. Atau dua orang. Wajar kekhawatiran itu muncul. Sebab, saban hari ada saja mahasiswa dan aktivis hilang. Tidak tahu diculik siapa dan dibawa ke mana. Hingga kini, banyak yang tidak diketahui rimbanya. Misteri.

Kendati mengeluti desk politik –yang dicampur-campur olahraga–, belum sekalipun hati ini tergerak masuk. Padahal diberi peluang. Jalan tol. Kegenitan para pendekar politik saat memaksa Gus Dur jadi Presiden, dan lantas menjatuhkannya lagi, memengaruhi pola pikir ini. Cukup jadi penulis politik saja. Tidak perlu jadi politisi. Menjadi wartawan lebih leluasa. Bisa masuk ke semua orang. Ke semua kubu. Ke semua parpol. Dan belajar tentang organisasi parpol-parpol itu. Belajar tentang lobi-lobi politik. Yang lebih banyak keputusannya tengah malam. Atau menjelang pagi. Yang orang-orangnya tidak mengenal tidur. Urusan tidur ini, kira-kira mirip kami-kami wartawanlah. Selepas deadline, banyak keputusan politik saya dapatkan dari kongko-kongko hingga fajar dengan politisi.

Lantas kapan tidurnya? Di mana saja. Asal badan bisa rebah, pasti ngorok. Pulas lagi. Bangku papan tanpa alas apapun, jika sudah diserang kantuk, berasa seperti busa kelas satu di kamar hotel bintang lima. Metabolisme tubuh kacau. Makan-pun tidak karuan. Asal sudah bisa ganjal perut, apapun langsung sikat. Hidup gaya kalong (paniki) boleh. Tapi, tidak sampai kelaparan. Teman-teman politisi amat ringan tangan jika soal makanan. Berebutan membeli jika satu saja awak pers mengeluh lapar.  Era transisi itu, amat tipis perbedaan wartawan, politisi dan aktivis.

Seiring berjalannya waktu, saya konsisten sebagai jurnalis. Bebas berkelana ke mana saja. Bebas bergaul dengan siapa saja. Bebas nongkrong di mana saja.

Hingga pada 2011, tergoda lamaran. Kendati tanpa partai penopang, anteng saya ikuti ajakan itu. Ikut Pemilihan Wali Kota-Wakil Wali Kota Kotamobagu. Tapi juga berkat dorongan pimpinan dan teman-teman kantor. Untung saja tidak jadi dipilih sebagai pasangan partai pelamar. Balik lagi ngantor seperti biasa. Tahu-tahu oleh Bos diminta ikut Pileg. Langsung ditunjuk ikut salah satu partai. Yang saat itu sedang naik daun. Mulailah berpetualang. Di dunia yang dulunya saya benci. Dasar wartawan, saban sosialisasi ke masyarakat, tetap dikira wartawan. Walau stiker sebagai kontestan Pileg 2014 sudah dibagi, image saya sebagai wartawan ternyata sulit hilang hehe. Jadilah kerja ganda. Sosialisasi bahwa saya caleg dan menjelaskan tentang program, visi dan misi.

Hasilnya? Gatal…(gagal total) wkwkwkw….Balik kantor dan kerja seperti biasa lagi. Ke warung kopi, yang kemudian jadi kebiasaan nongkrong selepas kerja, saya jadi bahan olokan teman. Caleg Gagal. Diterima saja olok-olok itu. Sudah risiko. Setelah Pileg, saya melepas jabatan sebagai pimpinan Posko Manado. Regenerasi. Balik ke induk lagi. Dan diberi tanggungjawab mengurusi anak perusahaan non koran. Tapi, urusan menulis tidak berhenti. Saya tetap aktif. Mengritisi yang tidak benar. Menulis rupa-rupa kejadian. Dan ikutan berkolaborasi dengan redaksi untuk mencari terobosan baru dari serbuan media digital.

September 2017 saya resmi mundur dari Manado Post. Setelah dua tahun mengajukan surat pengunduran diri. 22 tahun mengabdi sebagai wartawan Manado Post Grup. Bukan sebuah kebetulan jika setelah mundur itu, anak-anak perusahaan Manado Post ikutan lepas dari induknya. Posko Manado, Radar Manado, Radar Bolmong, Gorontalo Post Grup, Malut Post Grup memilih ikut Abah DI –begitu saya biasa menyapa Pak Bos Dahlan Iskan–. Yang sudah keluar dari Jawa Pos. Dan sekarang mendirikan INN (Indonesia News Network). Membawahi ratusan penerbitan eks anak-anak dan cucu Jawa Pos. Tersebar seantero negeri. Termasuk di Grup Manado, yang komandannya di tangan CEO Urief Hassan. Bekas Direktur Keuangan Manado Post Grup. Sementara Jawa Pos beralih manajemen. Ke Ciputra dan Grup Tempo. Di Manado, Manado Post sendiri yang tetap di bawah payung Jawa Pos Grup.

Lekat hubungan dengan koran membuat nama saya telanjur berlabel wartawan. Saya sadari bahwa image itu masih sulit lepas. Kendati kini terjun ke dunia politik, cap wartawan masih basah.

Bila pada Pemilu Legislatif 2014 dipinang salah satu partai, saya hanya bertahan setahun setelah Pileg di partai itu. Selanjutnya saya fakum. Tidak partisan lagi dan bekerja seperti biasa sebagai karyawan Manado Post. Rentang 2015-2017 saya non partisan.

Awal 2018, tawaran itu datang. Mula-mula cuek. Sebab, dua kali gagal di politik, sudah warning bahwa dunia saya adalah tulis menulis. Tapi, Partai Golkar tak menyerah. Dari segala arah ajakan itu datang. Setelah berpikir matang, saya terima tanpa syarat. Dan Partai Golkar pun meminang saya tanpa syarat. Sama-sama enaklah. Maaf kepada partai lain, yang ketika melontar ajakan, saya kurang respon. Bukan menolak, tapi kita tidak berjodoh. Dengan segala risiko, hakul yakin pilihan ke Partai Golkar.

Diminta ikut Pileg 2019. Juga tidak menolak. Singkat cerita, jadilah saya Caleg Partai Golkar. Pilihan rasional, Caleg DPRD Kota Kotamobagu, Daerah Pemilihan 2, Kotamobagu Selatan. Nomor urut 3.***

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.