Koran Musiman, Krisis Moneter dan Reformasi

0
122
Hairil Paputungan

AKIBAT krisis moneter dan kegaduhan negeri pada 1998, koran ikut kena dampak. Halaman menyusut. Dan banyak wartawan beralih profesi. Saya bertahan. Bahkan dikirim ke Jawa Pos, induk kami di Surabaya. Istilah internal, di-BKO-kan. Disuruh berkelana ke kota-kota di pulau Jawa. Hanya sesekali pulang. Kadang sebulan sekali. Bisa sebulan dua kali. Jika Pemimpin Redaksi Jawa Pos Dimam Abror sedang berbaik hati, saya dan beberapa teman diberi libur pulang kampung dua pekan. Pulangnya tidak libur. Tetap saja masuk kantor di Manado. Bekerja seperti biasa. Bila kondisi genting, kami ditarik lagi ke Surabaya. Kadang langsung Jakarta. Ketika peristiwa Semanggi 1 dan 2, saya ketiban ‘sialnya’. Ngepos Jakarta dan meliput rusuh ibukota.

Bila sedang di Surabaya, saya kerja rangkap. Kelar deadline, diminta periksa order pemasaran koran. Disuruh ikut truk-truk pemasaran hingga ke pelosok-pelosok pulau Jawa. Di sinilah punya kesempatan luas mengasah kemampuan menulis. Juga trik jual koran dan cari langganan. Langsung dibawah bimbingan senior Jawa Pos. Dan tentu saja kerap dipelototi Big Bos, Dahlan Iskan. Dari beliaulah saya banyak mencuri ilmu menulis. Beruntung lagi sebab dari sekian yang ‘dibuang’ ke induk, hanya saya bisa nyetir mobil. Kesempatan besar saat tengah malam. Karena acap diajak Pak Bos DI –biasa kami menyapa—jalan-jalan. Dengan mobil BMW seri terbaru. Dan kemudian Mercy seri terbaru. Yang saat itu sudah menggunakan penggerak roda matic. Pak DI sebetulnya bukan kolektor mobil. Dan bukan yang suka pamer jenis mobil. Ia bisa ke kantor numpang apa saja. Lebih sering ojek. Mobil merk ternama dan mahal, itu memang dibeli Jawa Pos untuk operasional Pak DI. Yang kala itu masih aktif sebagai CEO Jawa Pos Grup. Saat krisis moneter 1998 itu, Jawa Pos salah satu perusahaan penerbitan yang tidak merasakan dampaknya. Jika-pun ada, hanya bahan baku kertas. Untuk pabrik kertas Temprina di Sidoarjo. Itu saja. Selebihnya nyaris tidak terasa. Karena infrastrukturnya sudah siap. Siap menghadapi krisis. Pada 1996, Jawa Pos sudah memrediksi, Indonesia bakal mengalami krisis moneter di penghujung 90-an dan atau awal millennium 2000-an. Rubrik-rubriknya yang menggarap pembaca pemula membuat tiras Jawa Pos tidak jeblok. Malah naik. Gila-gilaan lagi. Lebih hebat lagi, di tengah krisis itu, Jawa Pos malah getol melahirkan koran-koran musiman. Yang oleh Pak DI disebut hanya akan bertahan di era peralihan. Dari orde baru ke reformasi. ‘’Paling juga setelah 2000-an mati sendiri. Sebelum mati, ya dimatiin saja hehe.’’  Koran-koran itu memang partisan. Seperti Duta (khusus untuk PKB), Amanah (koranya PAN), Demokrasi (PDIP). Juga beberapa tabloid fenomenal. Yang ulasan-ulasannya sangat keras. Bombastis. Dan berpihak. Kondisi psikologi massa kala itu terpuaskan dengan sajian koran dan tabloid musiman itu. Lakunya kayak pisang goreng. Karena koran-koran musiman ciptaannya menjamur dan laku, sang induk terbentengi. Tetap survive di tengah krisis. Trik Pak DI ini menginsipirasi koran-koran lain untuk menerbitkan anak perusahaannya. Sampai ke daerah-daerah. Padahal, invasi ke daerah-daerah, sudah dilakukan Pak DI semenjak awal 90-an.

Saat menyopiri Pak DI, saya tidak sia-siakan waktu. Bertanya segala rupa. Tentang koran-koran itu. Tentang gaya tulisan. Tentang Manajerial. Tentang politik. Tentang ekonomi. Tentang Tiongkok, yang kala itu mulai gencar membangun ekonominya. Juga infrastrukturnya. Jadinya saya kian subur menulis. Dengan mengadopsi style Pak Bos DI. Topiknya apa saja. Orang berantem rebutan kursi kereta kelas ekonomi pun saya tulis. Dimuat saban edisi Kamis dan Minggu di Jawa Pos. Tulisan yang sama, saya permoi lebih ke lokalan Sulut. Untuk dikirim ke Manado Post. Dan tetap menggunakan rubrik Celoteh. Kelak, saat kami dipulangkan hasil BKO itu, sekira awal tahun 2000, Axsel Galatang ‘resmi’ menyerahkan rubrik celoteh menjadi ‘milik saya’. ‘’So cukup kita. Ngana yang kase trus celoteh. Jangan sampai rubrik ini hilang.’’ Kala itu Axsel kian jarang terjun ke redaksi. Akibat sakit yang ia derita. Manado Post memberi penghargaan dengan tidak membebani Axsel kerja spartan seperti dulu. Ia lebih banyak menjadi mentor. Untuk wartawan-wartawan rekrutan baru. Karena itu hingga sekarang, Axel tetap bertengger sebagai Redaktur Senior Manado Post.***

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.