Istilah Pelakor Jadi Momok

0
456
Grafis: Jc/Harian BMR

KLIK24.ID – Pemberitaan seorang perempuan tewas ditikam pasangan selingkuh yang sudah beristri, yang diterbitkan Harian BMR, tentu menjadi sebuah pelajaran bagi semua. Istilah perebut (le) laki orang lain alias pelakor yang saat ini tren menyebutkan perempuan yang punya hubungan spesial dengan suami orang, jadi momok. Tanpa memerhatikan sebab-akibat yang didapatkan dan tidak memerhatikan juga sisi kesalahan perempuan maupun kesalahan laki-laki.

Pemberitaan kemarin, seorang pria beristri inisial HK alias Hend (48) warga Tanjung Batu, Kecamatan Wanea, Manado, tega membunuh selingkuhannya inisial DYG alias Dewi (27) yang diketahui ngekos di Lingkungan II, Kelurahan Tingkulu, Manado, Selasa (2/4) lalu. Peristiwa pembunuhan tersebut terjadi di tempat kos korban sekira Pukul 23:45 WITA.

Data diperoleh, Dewi yang merupakan karyawan sebuah perusahaan swasta di Manado terlibat cek-cok dengan tersangka Hen malam sebelum kejadian. Akibat cek-cok itu, diduga Dewi ingin mengakhiri hubungan terlarangnya dengan Hend. Pada saat korban mengatakan tak ingin melanjutkan hubungan dengan tersangka, korban pun mengusir tersangka dari tempat kos. Tak terima dengan keputusan korban, tersangka yang sudah memiliki isteri terus membujuk korban agar hubungan cinta mereka tidak diakhiri, tapi korban tetap ngotot dan mengusir tersangka. Akhirnya tersangka kalap dan mencekik leher korban. Biadabnya lagi, tersangka kemudian mengambil pisau dan menusuk tenggorokan korban hingga korban meregang nyawa di kamar mandi. Menyadari korban telah meregang nyawa, tersangka kemudian kembali ke rumah dan melaporkan apa yang diperbuatnya kepada sang istri. Setelah berkomunikasi, tersangka didampingi istri menuju Kantor Kepolisian sektor Wanea dan menyampaikan apa yang telah dilakukan tersangka kepada polisi.

Bagaimana tanggapan pemuka agama di Kotamobagu terkait istilah pelakor? Ustad Dani Pontoh kepada HBMR mengatakan, awalnya istilah itu dari kalangan selebriti.

“Saya memang memaknai tentang Pelakor atau juga disebut sebagai perebut suami orang atau perusak rumah tangga orang saat ini menjadi marak dikalangan selebriti kita. Mereka sebagai selebriti harusnya sebagai publik figur memberikan contoh yang baik pada masyarakat bukan malah sebaliknya,” ujar Ketua MUI Kotamobagu itu.

Menurut dia, hukum mencintai dalam pandangan Islam dan juga merebut suami orang dengan tujuan merusak rumah tangga supaya bisa menikah dengan orang tersebut adalah haram hukumnya.

“Hal ini berdasarkan dari hadits Abu Hurairah radiiyallahu. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Barang siapa menipu dan merusak (hubungan) seorang hamba dari tuannya, maka ia bukanlah bagian dari kami. Dan barang siapa merusak (hubungan) seorang wanita dari suaminya, maka ia bukanlah bagian dari kami”,” tuturnya.

Sementara itu, Peneliti bidang kajian gender Sabilla Tri Ananda mengatakan melabeli perempaun dengan sebutan ‘pelakor’ termasuk bentuk kekerasan verbal dan misogini.

Misogini adalah rasa benci atau tidak suka terhadap perempuan atau anak perempuan. Istilah ‘pelakor’ menjadi bias, seakan-akan lelaki yang diambil oleh orang lain adalah pasif, sementara perempuan menjadi pelaku aktif dalam perselingkuan, padahal selingkuh dapat terjadi karena dua belah pihak.

“Perempuan kerap disalahkan dalam sebuah perselingkuhan, jika istri berselingkuh maka perempuan akan disalahkan, jika suami berselingkuh maka orang ketiga yaitu perempuan juga akan disalahkan,” kata Sabilla.

Mirisnya, perundungan dengan menyebut perempuan orang ketiga dalam suatu hubungan sebagai ‘pelakor’ yang marak di media sosial kerap dilakukan oleh perempuan juga. Bahkan, perundungan tersebut juga sampai ke dunia nyata, misalnya kasus pengiriman karangan bunga yang isinya hujatan yang dialamatkan ke kantor perempuang orang ketiga tersebut.

Menurut dia, hal tersebut dapat terjadi karena perempuan yang selama ini ‘terjajah’ dalam budaya patriarki ternyata ikut melanggengkan nilai patriarki tersebut dengan menilai, mengopresi dan menindas perempuan lain. Perempuan yang selama ini menjadi objek penindasan dalam dunia maskulin, mencoba berdiri sebagai subjek dengan mengadopsi nilai maskulin dan mkelakukan kekerasan terhadap perempuan lain.

“Jadi terjadi peniruan oleh kelompok terjajah (dalam hal ini perempuan) terhadap kebiasaan, perilaku, ide dari kelompok penjajah (dalam hal ini laki-laki). Kemudian kelompok terjajah tersebut mempraktikan kebiasaan tersebut ke sesama kelompoknya,” kata peneliti lulusan Magister Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia tersebut.

Peneliti linguistik Nelly Martin mengatakan, istilah ‘pelakor’ tersebut digunakan untuk menyalahkan dan mempermalukan perempuan dan sama sekali tidak menyalahkan laki-laki yang melakukan perselingkuhan. Dalam konteks tersebut, istilah ‘pelakor’ perlu dianalisis secara kritis karena memberikan retorika yang timpang.

Secara sosiolinguistik, istilah ini sangat berpihak pada laki-laki, karena seringkali muncul dalam wacana keseharian tanpa istilah pendamping untuk laki-laki dalam hubungan tersebut. Istilah pelakor, secara umum digunakan sendiri, atau sang laki-laki secara terang-terangan absen dalam cerita tersebut.

Secara kebahasaan, istilah ‘pelakor’ meminggirkan perempuan. Lebih dari itu istilah ini menunjukkan fenomena sosial-budaya yang lebih besar.

Kerapnya istilah ini digunakan dalam cerita di media sosial dan dalam pemberitaan tanpa didampingi istilah yang sepadan untuk pelaku laki-laki, menunjukkan bahwa istilah ini seksis. Nelly mengatakan, kecenderungan masyarakat Indonesia untuk menyalahkan pelakor seorang menunjukkan bias negatif kita terhadap perempuan, dan pada saat yang sama mengglorifikasi laki-laki.

Pengamat kemasyarakatan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Jetty Tamanampo-M mengatakan, istilah pelakor jangan dijadikan konsumsi sosial media karena menyudutkan perempuan tanpa melihat kesalahan laki-laki. “Sederhananya seperti itu. Stop penggunaan istilah tersebut,” jelasnya.

Menurut dia, harus ada introspeksi dalam setiap konflik dalam pernikahan dan lain sebagainya. “Kuncinya seperti itu,” pungkasnya. (mg41)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.