MENELUSURI JEJAK DEMOKRASI ELEKTORAL DI SULAWESI UTARA

0
DR. Nur Hidayat Sardini, S.Sos, M.Si

SETIAP perkembangan suatu masyarakat (komunitas, bangsa, dan negara) selalu merupakan produk abstrakan dari kompleksnas interaksi antara satu kelompok dan kelompok lainnya, pengaruh-pengaruh objektif dalam hubungan antara para penghuni masyarakat setempat, yang di satu pihak para penghuni memeroleh keuntungan dari kondisi-kondisi objektif tersebut, namun di sisi yang lain jika tidak mampu menyesuaian dengan kondisi-kondisi objektif, maka para penghuninya memeroleh rintangan-rintangan dalam mencapai kehidupan yang lebih baik.

Pada saat bersamaan, manusia sendiri memiliki dimensi-dimensi simetris, jika mampu mendayagunakan hubungan-hubungan dengan sesamanya, namun dapat pula berdimensi asimetris jika dalam membangun hubungan tersebut tidak sejalan dengan kepentingan yang lebih luas yang melibatkan sebagian besar orang dl dalam masyarakat tersebut.

Seluruh abstraksi dan kompleksitas sosial tersebut akhirnya membentuk apa yang oleh Zuhdi (2014) disebut sebagai “Sebuah fakta sejarah yang disepakati” (an acceptedfact of history).

Kawasan yang kini dikenal sebagai Provinsi Sulawesi Utara, memiliki rekam Jejak sejarah yang demikian panjang. Provinsi ini dibentuk oleh tidak saja oleh dinamika yang didominasi oleh masyarakat Minahasa dan sebagian Bolaang Mongondow serta relasi relasinya dengan masyarakat lain pada masa lalu (daratan), melainkan juga oleh masyarakat yang menghuni kawasan perairan yang dulu dikenal sebagai Nusa Utara (Nusra), terdiri atas bentangan dari pojok laut Ternate, Mindanao-Filipina di utara, hingga Kepulauan Sulu di barat, yang berada di ketiga sub-kawasan yakni gugusan pulau-pulau Sangihe, Talaud serta sub-kawasan Sitaro yang terdiri atas Siau, Tagulandang, dan Biaro (kepulauan) (Lombard, 2005).

Pada masa perjuangan mencapai kemerdekaan, masyarakat yang tinggal di kedua kawasan (daratan dan kepulauan) tersebut, memiliki andil yang cukup besar. Dari catatan sejarah, sejumlah peristiwa perjuangan untuk merebut dan memenahankan negara proklamasi 17 Agustus 1945, menandai bahwa masyarakat yang kini disebut Provinsi Sulawesi Utara ini ditulis dengan tinta emas. Sejumlah peristiwa ini tidak hanya berasal dari daratan (Palar, 2009), namun juga heroisme yang ditunjukkan oleh masyarakat di sekujur kepulauan (Kementerian Penerangan, 1953). Peristiwa heroik berikut nama para pejuangnya, yang telah berjasa besar untuk merebut dan memenahankan negara proklamasi 17 Agustus 1945, tidak mungkin hilang dari ingatan kolektif masyarakat Sulawesi Utara sendiri, melainkan juga terpatri dalam memori kolektif masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia pada umumnya.(bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.