Pilgub Sulut, Tetty-Elly Dipaketkan

0
Tetty Paruntu (f-merdeka.com)

KLIK24.ID – Memasuki penghujung 2019, pun setelah dipastikan kontestasi Olly Dondokambey-Steven Kandouw (ODSK), keduanya kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Sulawesi Utara, di Pemilihan gubernur (Pilgub) 2020 mendatang, riuh politik jelang Pilgub kian kencang. Terbaru, setelah pupus jadi menteri, sosok Christiany Eugenia ‘Tetty’ Paruntu, kader Partai Golongan Karya (Golkar), mulai dipaketkan berduet dengan Elly Engelbert Lasut, politikus Partai Nasional Demokrat (NasDem), untuk menantang ODSK, pasangan incumbent.

Sekadar referensi, duet Tetty-Elly mengerucut di Minahasa Raya, Bitung dan Nusa Utara. Dua pasangan ini mulai disosialisasi di sosial media, baik Facebook maupun di Grup-grup WhatsApp (WA).

Tetty Paruntu yang juga ketua DPD Partai Golkar Sulut, jadi buah bibir pascagagal diangkat menteri oleh Presiden Joko Widodo, padahal Tetty telah memenuhi undangan Istana untuk di fit and proper test Presiden Jokowi. Sayangnya, desas-desus berkembang, Tetty diduga dijegal di dalam Istana Negara oleh sejumlah pihak yang terganggu dengan keberadaan Tetty. Menariknya, diketahui belakangan, Tetty merupakan usulan menteri DPP Golkar kepada Jokowi.

Pengamat politik Sulut Ferry Daud Liando ketika dimintai tanggapan mengatakan, mengemukanya nama Tetty Paruntu sebagai kandidat calon Gubernur Sulut adalah merupakan hasil konsolidasi nasional yang baru saja dilaksanakan oleh Partai Golkar. Dimana, dalam konsolnas tersebut nama Tetty digadang akan diusung menjadi kandidat kuat untuk papan 1 top eksekutif Sulut 2020 mendatang.

“Wacana yang berkembang dalam kegiatan konsolidasi nasional partai Golkar minggu lalu soal kemungkinan akan mengusung Tetty sebagai calon gubernur. Namun bagi saya, sepanjang belum ada penetapan pasangan calon kepala daerah oleh kpud Sulut maka belum ada yang bisa memastikan siapa bakal calon yang akan berkompetisi. Termasuk nama-nama yang mulai disodorkan masing-masing parpol (Partai politik),” kata Ferry, kemarin.

Menurutnya, pada Pilgub kali ini, harus berkaca pada pemilihan yang sudah terselenggara beberapa waktu lalu. Seperti pemilihan Wali Kota Manado. Kata Ferry, hal tersebut perlu menjadi bahan pertimbangan pada pemilihan kali ini. Karena, tidak selamanya nama-nama yang telah mengemuka akan diusung oleh masing-masing partai.

“Ada 2 peristiwa masa lampau yang bisa diajukan pelajaran. Jimmy Rimba Rogi diusung Golkar di Pilwako Manado, namun pencalonan mereka dianulir di detik-detik terakhir. Begitu juga dengan Pak Jantje Wowiling Sajow (JWS) yang sejak awal sudah dipastikan di usung PDIP. Namun siapa sangka ternyata di injury time, JWS dianulir PDIP sendiri. Jadi selama belum ditetapkan oleh KPUD, maka nama-nama yang mulai mengemuka saat ini belum tentu bisa berlanjut sampai pencalonan,” jelasnya.

Tapi, sambung Ferry, jika pada akhirnya Golkar akan tetap mengusung Tetty Paruntu sebagai kandidat calon Gubernur Sulut, ada tantangan yang akan menghadapi pengusungan Golkar di dalam kontestasi nanti. Kata dia, dari segi kelembagaan atau organisatoris yang memang telah terjadi kubu-kubu di internal Golkar dan kepemilikan kursi Golkar di Deprov Sulut.

“Popularitas Tetty tidak lagi ada yang perlu diragukan. Menjadi bupati 2 periode dan menjabat ketua Golkar tentu menjadi modal kuat intuk jadi calon. Namun tantangan terberat Golkar adalah soliditas internal. Jika dibandingkan dengan PDIP, Golkar masih kalah dalam hal kelembagaan organisasi atau soliditas partai. Selama ini golkar masih cenderung terpolarisasi pada 3 kekuatan besar yang dianggap masih belum saling mengisi. Kekuatan itu adalah gerbong pimpinan Pak Imba Rogi, Gerbong Pak Vreke dan Gerbong Ibu Tetty. Masing-masing gerbong memiliki pengikut yang mengakar,” beber dia.

“Jika 3 kekuatan ini tidak menyatu maka akan menjadi ancaman serius bagi Golkar sendiri. Tetty akan menjadi calon paripurna apabila friksi-friksi dalam paraf Golkar dapat dipersatukan kembali. Tantangan lain bagi golkar Sulut bahwa perolehan kursi di DPRD hanya sebagai 7 kursi. Artinya Golkar belum bisa mengusung kader sendiri. Pasal 40 UU Nomor 10 tahun 2016 menyebutkan Partai Politik dapat mendaftarkan paslon jika telah memenuhi persyaratan perolehan paling sedikit 20 % dari jumlah kursi DPRD atau 25 % dari akumulasi perolehan suara sah dalam Pemilu. Jika capaian itu tak terpenuhi maka golkar harus bergabung dengan parpol lain agar ketentuan sangat 20 persen terpenuhi,” sambung akademisi Unsrat tersebut.

Selain itu, ada tantangan yang perlu menjadi perhatian serius dari Golkar ketika akan mengusung papan 1 dalam kontestasi Pilgub, yakni kader potensial dari BMR yang mampu mendongkrak nama Tetty Paruntu dalam menjajaki suhu politik Pilgub.

“Jika akhirnya Tetty benar-benar akan maju maka pasangan bakal calon wakil gubernur yang bisa mendongrak elektabilitasnya adalah jika beliau mampu merangkul dari tokoh BMR. Di BMR banyak tokoh-tokoh potensial dan punya reputasi yang sangat baik. Beberapa nama diantaranya adalah Pak sehan lanjar Bupati Boltim. Sosok ini adalah pemimpin bersih dan terbukti berpihak pada kepentingan publik. Jika elit-elit BMR bersatu maka siapapun calon yang berhasil merangkul tokoh BMR maka kekuatan pasangan ini akan dominan,” tandasnya. (mg41)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.