Mengenal Sangadi Bulud, Penambang yang Jadi Sangadi

0
Nurhadin Mokodongan dan istri

KLIK24.ID Nurhadin Mokodongan (50) terpilih sebagai Sangadi  Bulud pada pemilihan Sangadi serentak Bulan November lalu.   Bapak tiga anak yang akrab dipanggil Adin, lahir di Desa Bulud, Kecamatan Passi Barat, 1 September 1969.

Sebelum dinobatkan jadi sangadi, keseharian Adin dihabiskan menggeluti sektor perttambangan, dengan posisi sebagai pekerja. Walaupun hanya seorang pekerja, namun nama Papa Febby diantara para pekerja tambang cukup disegani. Seperti yang diutarakan pekerja Tambang asal Desa Tabang, Hamlan Podomi. Menurutnya, Nurhadin itu penambang yang banyak pengalaman, hampir semua wilayah di Indonesia sudah di singgahin, dari Aceh hingga  Papua. “Beliau sudah keliling Indonesia  gara-gara tambang, saya ketemi Nurhadin saat menambang di Numlea, Maluku. Saya yakin dengan banyak pergaulan keluar daerah, banyak pula pengalaman-pengalaman yang beliau dapat, terutama pendekatan psikologis ke masyarakat baik itu pendekatan ke pendukung maupun yang bukan mendukung,” cerita Hamlan. “Nurhadin seorang Hamble (merendah), tidak sombong walaupun dirinya sangat disegani para penambang,”Sambung Hamlan.

Adin mengatakan semula tak pernah terpikirkan mencalonkan diri sebagai calon Sangadi. Dia hanya ingin fokus mencari kehidupan untuk keluarga. Saat jelang pembukaan pendaftaran Pilsang dirinya berada di Kalimantan,dirinya mengaku mendapat telepone dari warga, agar dirinya sudi mencalonkan diri. “Dengan banyaknya pertimbangan baik telephone dari tokoh masyarakat maupun pertimbangan keluarga akhirnya saya ikut dalam perhelatan Pilsang,” katanya.

Setelah tahapan Pilsang bergulir, mulai ada isu yang berkembang dari minimnya pengalaman di bidang pemerintahan hingga pada karakter dirinya sebagai seorang penambang. Namun, Adin mengaku tak terlalu pusing dengan konstelasi isu politik di desanya, yang Adin lakukan bagaimana menyusun kekuatan atau strategi agar masyarakat mempercayainya. “Sosialisasi tentang visi misi, dan niat baik untuk membangun Desa Bulud lebih transparan dan akuntable, saya ke depankan,” ungkapnya.

Suami dari Serlina mokodompit mengakui bahwa dirinya sangat minim pengetahuan tentang aturan Pemerintah (Desa), oleh karenanya dirinya membuka diri kepada masyarakat untuk dikritik atau diberi masukan untuk kebaikan desa. “Pintu rumah saya terbuka lebar kepada siapapun, yang ingin memberi saran untuk kemajuan desa,” tuturnya.

“Kritik atau saran mohon disampaikan secara langsung, jangan melalui orang lain apalagi di Medsos, saya pikir dengan datang kerumah atau ke balai desa itu lebih nijak,” Sambung Papa Febby.

Saat ditaya tentang adanya pergantian aparat desa dalam waktu dekat ini, Pria lulusan SMA Yapis Manokwari ini mengatakan bahwa pergantian aparat terlalu dini itu adalah gegabah, tidak mungkin dilakukan. “Saya memberi kesempatan kepada aparat desa untuk menunjukan kinerjanya, jika mereka menjalankan tugas dengan baik dan mendukung program-program yang telah ditetapkan dalam RKPDes, tentunya mereka aman. Tetapi jika mereka tidak bekerja dengan baik, tentunya saya harus mengambil tindakan, saya harus mengevaluasi,” ungkapnya.

“Komitmen itu berlaku untuk semua, tanpa terkecuali, termasuk Aparat Desa yang pada bulan November lalu memilih saya,” tegasnya. “Saya akan merangkul seluruh masyarakat, tanpa membeda-bedakan kelas apalagi pilihan”. Pilsang telah usai, mari satukan tekad bersama-sama masyarakat membangun Desa Bulud menjadi desa yg lebih baik aman, maju, bermartabat dan berwibawa.

Nurhadin menambahkan Desa Bulud merupakan desa kecil, Luas wilayahnya hanya 98 hektar, dengan jumlah penduduk 1438 jiwa, dengan 367 KK terbagi menjadi 3 dusun, 7 rukun tetangga, namun demikian warga Desa Bulud terkenal kritis-kritis. “Sifat kritis warga adalah Potensi, yang harus saya optimalkan,” tutupnya.(jok)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.