Ini Kendala Gunakan Dana Desa di BMR untuk Desa Wisata

0
SERIUS: Sangadi Deaga Rum Mokoginta dan Bobby Laurent saat diskusi tentang dana desa dan pariwisata.

KLIK24.ID – “Saya bukannya tidak setuju dana desa dipakai pengembangan pariwisata desa, tetapi sebelum membangun tempat pariwisata coba dibuat analisa usahanya terlebih dahulu,” kata salah satu staf perijinan Bolsel bagian IMB, Bobby Laurent, Sabtu malam di Iboss Cafe. Hadir saat itu Sangadi Deaga Rus Makoginta dan beberapa perangkat desa Kecamatan Pinolosian Timur, Bolaang Mongondow Selatan.

Bobby menambahkan tempat -tempat wisata yang ada sekarang cenderung sepi bahkan karena minimnya pemasukan tempat pariwisata tersebut sudah tidak terawat, terkesan mangkrak. “Tempat pariwisata di BMR, belum bisa dijadikan sektor  andalan untuk mendapatkan Pendapatan Asli Desa atau Daerah,” tuturnya. ” Lihat saja tempat pariwisata di Kombot, Lungkap, Lolan, Babo dll, pada hari biasa terlihat sepi. Ramainya saat liburan, setelah hari raya idul Fitri, dan setelah natal atau saat tahun baru,” sambungnya.
Meski begitu Bobby setuju dengan potensi wisata yang ada di desa-desa BMR. Tetapi, katanya, yang terlihat berkembang bisa dihitung jari. Dari fakta itu Pemerintah Desa harus hati-hati jika mau mengucurkan dana desa untuk kegiatan pengembangan tempat wisata di desa agar dana desa tidak mubazir.

Sangadi Deaga, Rus Mokoginta mengatakan kebutuhan masyarakat BMR kebanyakan masih berkutat di kebutuhan primer dan sekunder. Masih sedikit warga yang masuk pada kebutuhan tersier. “Kebutuhan tersier atau kebutuhan ketiga merupakan tingkat kebutuhan yang paling tinggi. Kebutuhan tersier muncul setelah kebutuhan primer dan sekunder terpenuhi. Karena itu kebutuhan tersier lebih bersifat prestisius, kebutuhan Tersier itu bersifat hiburan dan kesenangan belaka,” katanya. “Wajarlah destinasi wisata di tempat wisata di BMR masih sepi kecuali liburan menjelang hari-hari besar keagamaan. Keadaan ini ditambah populasi penduduk di BMR yang relatif sedikit dibanding penduduk Jawa atau Sumatera,” cetusnya.

Sangadi menambahkan mata pencaharian masyarakat BMR kebanyakan masih petani dan PNS. “Pada saat libur tanggal merah mereka pergi ke kebun atau sawah, untuk melihat-lihat tanamannya yang sudah dikerjakan petani penggarap. Bahkan ada yang beranggapan ke kebun itu bagian dari refreshing. Itu sebabnya tempat wisata di BMR masih sepi pengunjung. Jika ada hari libur, waktunya dihabiskan untuk pergi kekebun, belum lagi banyaknya hajatan di hari libur menambah kendala warga untuk melancong. Bolmong terkenal dengan kekerabatannya, jadi sangat sulit kita menghindar dari hal yang satu ini,” ujarnya.

Robby Abtony, pelaku wisata mengatakan  jenis wisatawan ada dua, yaitu wisnu  (Wisata Nusantara) dan wisman (Wisatawan Mancanegara). Wisman sangat sulit diharapkan sebab sarana pendukung pariwisata di BMR masih minim. “Jauhnya Bandara Sam Ratulangi, pengembangan SDM di bidang Wisata yang belum ada. Dan masih kurangnya promosi-promosi kebudayaan Bolmong, turut andil melesukan sektor pariwisata di BMR,” ungkapnya.
“Wisman yang datang ke BMR, biasanya karena tugas, bukan hasrat diri untuk datang, misalnya tugas melakukan penelitian, tugas perusahaan karena bisnis dll,” jelasnya.
Kata Robby,  membangun desa wisata tidak hanya mengandalkan pemandangan alam saja, tetapi harus di padu dengan budaya dan kreativitas.(jok)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.