Tarkam Dumoga Raya: ‘Bakuku’ Picu Konflik, Pertegas Hukum Adat

0
SIAGA: Sejumlah aparat keamanan berjaga di lokasi tarkam. (f: Istimewa)

KLIK24.ID – Pertikaian antar kampung (Tarkam) di wilayah Dumoga Raya yang terus terjadi, seakan menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah, kepolisian dan instansi terkait. Namun, karakter masyarakat yang seperti terpola akan adanya konflik, membuat itikad baik kesepakatan damai seolah mubazir.

Dilihat dari Budaya Mongondow, tarkam seperti ini ternyata jelas telah diatur dalam peraturan adat. Budayawan Bolmong Chairun Mokoginta kepada HARIAN BOLMONG RAYA mengatakan, perbedaan peraturan adat bukan menjadi alasan murni penyebab kericuhan yang sering terjadi di wilayah Dumoga.

“Karena dari leluhur kita sendiri budaya adat telah diposisikan sebagai aturan masyarakat Bolaang Mongondow, sehingga setiap Desa menerapkannya kepada masyarakat untuk dipatuhi,” ujar dia.

“Hal ini bukan tak beralasan, melainkan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat. Sedangkan di wilayah Dumoga, kericuhan terjadi disebabkan oleh karakter perorangan, yang kemudian mengajak kelompok masyarakat untuk mengatasi masalah yang terjadi dengan kepala panas,” sambung Mokoginta.

Dia menyebut, jika setiap perselisihan sepele diselesaikan dengan baik tanpa melibatkan banyak orang pasti akan selesai dengan baik pula. Menurut dia, berbeda dengan penyelesaian masalah yang kemudian mengajak banyak orang terlibat didalamnya, sudah pasti perbedaan pendapat bisa terjadi dan berbuntut masalah baru. Ia menyebutkan, salah satu pemicu kericuhan yang sering terjadi di wilayah Dumoga, disebabkan oleh minuman keras.

“Sehingga saat mereka mengonsumsi minuman tersebut akan lepas kontrol, yang kemudian melakukan pelanggaran adat seperti berteriak atau sering kita sebut “Bakuku”. “Peraturan adat dibuat oleh desa dan harus dihargai oleh masyarakat. Jika mendapati masalah pelanggaran adat atau hal apapun yang mengusik perorangan, maka harus diselesaikan oleh orang tersebut, tanpa mengajak kelompok-kelompok masyarakat tertentu. Sehingga akan ada peluang mereda kericuhan terjadi,” jelasnya.

Sekadar referensi, tarkam kembali pecah antara dua kelompok warga Dumoga dan Tambun, Kecamatan Dumoga Timur, Sabtu malam (28/9), pekan lalu.
Awal kejadiannya, saat warga Desa Tambun melakukan penjemputan jenazah yang meninggal dunia menuju ke rumah duka. Saat itu, warga yang melakukan iring-iringan, terutama yang mengendarai kendaraan roda dua, menarik-narik kontrol gasnya. Sehingga, mengganggu warga sekitar yang tengah beristirahat. “Saat iring-iringan penjemput jenazah melewati Desa Dumoga, di situlah terjadi aksi pelemparan. Yang melakukan pelemparan adalah warga dari Desa Dumoga,” kata salah satu warga yang menyaksikan langsung kejadian tersebut. Sementara itu, sangadi Dumoga Induk Hermoni Manggopa mengatakan keadaan semakin panas pada Sabtu malam (29/9) sekira jam 11.30 wita saat warga tambun kembali lakukan penjemputan jenazah di perbatasan Dumoga dan Desa Modomang. “Situasi pun tidak terkendali sehingga bentrokan kedua warga tidak terhindarkan, saling serang dengan sejata angin dan baku lempar batu sehingga mengakibatkan 9 warga Dumoga, 1 warga Siniyung, 1 anggota TNI mengalami luka tembakan diduga terkena senjata rakitan dan 7 rumah warga Dumoga mengalami rusak,” jelas Sangadi. (tes)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.