Lenda Kosegeran, Guru Asal Toruakat yang Mengajar di Pusian

0
Lenda Kosegeran. (f: Tesy/Klik24)

Laporan: Tessi Ngodu, Pusian, Bolaang Mongondow

KLIK24.ID – Sekira Pukul 7.00 Wita wartawan menuju Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 4 Dumoga yang terletak di Desa Pusian Induk, Kecamatan Dumoga, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong). Diketahui, Desa Pusian dan Desa Toruakat sedang konflik antar kampung (Tarkam) sejak Jumat (4/10) hingga Senin (7/10) kemarin. Sehingga wartawan memantau aktivitas sekolah khususnya SMPN 4 Dumoga.

Setiba wartawan di lingkup sekolah, nampak sekolah sepi, karena siswa yang belum berdatangan. Sekira 15 menit wartawan di sekolah, salah salah satu guru turun dari kendaraan beroda dua. “Selamat pagi,” sapa guru tersebut sambil berjabat tangan dengan wartawan. “Ada yang bisa dibantu,” tanya guru sambil berjalan perlahan menuju ke halaman sekolah, yang berada sekira 2 meter dari gerbang. Wartawan pun memberitahukan maksud dan tujuan mengunjungi sekolah.

Sekedar diketahui, maksud wartawan yakni ingin bertemu dengan salah satu guru asal Toruakat yang bertugas di sekolah yang berada di Desa Pusian.
“Saya Lenda Kosegeran. Kebetulan saya asal Toruakat bu,” Lenda, sapaan akrabnya, menjawab pertanyaan wartawan mengenai guru asal Toruakat. Kemudian dia menurutkan pengalamannya, selama bertugas di Wilayah Dumoga meskipun sedang konflik.
Lenda Kosegeran mengungkapkan, meskipun Desa Toruakat dan Pusian sedang konflik, namun sebagai abdi negara harus melakukan tugas dan tanggung jawab, untuk mendidik siswa di sekolah. “Ada sedikit keraguan saat menuju ke Desa Pusian untuk bekerja, namun saya terus bertekad untuk melakukan tugas dan tanggung jawab yang telah di emban. Tidak mungkin saya membiarkan anak-anak didik terbengkalai hanya karena konflik yang terjadi,” katanya.

Konflik terjadi pada malam Sabtu lalu, sehingga aktivitas sekolah saat itu tidak ada, karena full day school, sehingga sekolah tidak masuk pada hari Sabtu. Namun Senin (7/10) hari ini, tetap ke sekolah seperti biasa. “Jika ada hal yang tak diinginkan terjadi selama bertugas, kami hanya bisa serahkan kepada pihak yang berwajib. Saya sudah bertugas di SMP N 4 Dumoga sejak tahun 2010, sehingga konflik seperti ini sudah hal yang biasa, karena tidak mungkin masyarakat mencelakai aktivitas pelajar, terutama menganggu kenyamanan siswa dan guru yang sedang belajar dan mengajar,” tutur ibu 3 anak ini.

Di SMP N 4 Dumoga ia mengaku, bertanggung jawab mata pelajaran Bahasa Inggris. Adapun teman guru asal Toruakat berjumlah 3 guru termasuk dirinya. “Selama ada anggota kepolisian yang berjaga, kami di sekolah tetap melakukan kegiatan belajar mengajar, meskipun ada beberapa siswa dari Desa tetangga yang belum masuk sekolah. Kami berharap konflik yang terjadi dapat segera teratasi, agar pelajarpun tak takut menuju ke sekolah,” harapnya menutup wawancara. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.