Dinkes Boltim: Penggunaan Ranitidin Kapsul dan Injeksi Dihentikan

0
Ilustrasi

KLIK24.id — Surat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia (RI) nomor T-PW.01.13.35.351.09.19.3510, terkait larangan menggunakan obat jenis Ranitidin langsung mendapat respon dari Dinas Kesehatan (Dinkes).
Ranitidin kapsul maupun injeksi yang merupakan obat bagi penderita maag tersebut, kini tidak lagi digunakan oleh seluruh pos pelayanan kesehatan di Boltim. Pasalnya, Ranitidin potensi cemaran Nitrosodimethylamine (NDMA) berpotensi memicu kanker.
Kepala Dinkes, Eko Marsidi mengatakan, pihaknya telah menginstruksikan seluruh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) untuk menghentikan penggunaan Ranitidin bagi pasien penderita maag.
“Kita sudah tidak lagi menggunakan obat Ranitidin dan sudah saya instruksikan kepada seluruh kepala Puskesmas di Boltim agar mengehntikan penggunaan obat tersebut baik jenis kapsul maupun injeksi,” jelasnya.
Bahkan menurutnya, pengadaan obat telah dibatalkan. “Karena ada perintah penarikan obat Ranitidin dari BPOM. Maka pengadaan obat yang kini dalam proses kita batalkan. Kita sudah meminta ke penyedia untuk membatalkan kontrak pengadaan Ranitidin,” urainya.
Sementara itu, Kepala UPTD Puskesmas Motongkad, Helmi Lasama mengaku, berdasarkan instruksi pihaknya tidak lagi menggunakan Ranitidi kapsul maupun injeksi dalam pelayanan kesehatan. “Kita tidak lagi gunakan obat Ranitidin,” katanya.
Namun menurutnya, meskipun Ranitidin tidak lagi digunakan, namun masyarakat tidak perlu kuatir lantaran pihaknya memiliki jenis obat lain untuk penderita maag. “Tidak perlu kuatir, obat maag bukan hanya Ranitidin. Kita masih ada obat untuk penderita maag seperti Lansprazole, Antasida dan omeprazol,” tutupnya. (ndi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.