Sangadi Liberia Stuban di Peternakan Tabang

0
KEMITRAAN: Peternakan ayam milik Alfian Podomi, Desa Tabang. (f-Joko Prasojo)

KLIK24.ID – Sangadi Liberia Timur Darno Mislan didampingi Kaur Pemerintahan Suhadi dan Kepala Dusun Wandi Wiranata mendatangi beberapa kandang peternakan ayam di Desa Tabang, kemarin. Tujuannya untuk belajar perihal peternakan ayam dengan sistim kemitraan dengan perusahaan, sekaligus belajar cara perawatan sampai ukuran kandang yang ideal. “Berawal dari diskusi ringan bagaimana mengembangkan BUMDes dan jenis usaha yang dipilih yang mempunyai prospek serta kecil resikonya, dari diskusi itu saya tertarik pada peternakan ayam potong. Makanya saya datang kesini untuk belajar,” ungkapnya.

Darno mengatakan kemitraan ayam potong yang dia jelaskan, tidak harus memiliki dana awal untuk pembelian bibit, makanan, dan obat-obatan, cukup mempunyai kandang sesuai ketentuan yang ditetapkan perusahaan, selanjutnya bibit dan makananya disediakan perusahaan. “Memang betul sistim kemitraan ini sudah lama ada, tetapi kami baru tahu. Lagian jenis usaha ini kami tidak memikirkan pemasarannya, karena perusahaan langsung yang ambil (beli), torang tinggal tunggu pembagian hasil,“ jelasnya.

“Sangat menarik, rencanananya kami akan mengembangkan ternak ayam sistim ini, apakah nantinya akan dikelelola desa (BUMDes) atau dirinya akan membuat kelompok – kelompok peternak. Tergantung pada rapat dengan pengurus  BUMDes, dan tokoh-tokoh masyarakat  lain. Rencana minggu depan kami akan datang lagi untuk melihat langsung cara perawatan saat bibit anak ayam datang,“ kata Sangadi Purnawirawan TNI ini.

Herman Mokoagow salah satu pemilik kandang disambangi rombongan mengatakan di Tabang sudah ada enam kandang yang menjalin kemitraan dengan perusahaan. Dan kali ini Sangadi ke tiga yang datang untuk belajar beternak ayam  dengan sistim kemitraan, yaitu Sangadi Pangian Induk beserta pengurus BUMDes, satu lagi sangadi dari Kecamatan Passi Barat. “Saya mulai beternak ayam baru 1,5 tahun, kami sudah panen tujuh kali. Alhamdulillah  modal untuk membuat kandang sudah kembali, sekarang tinggal panen keuntungan saja,“ katanya.

“Kapasitas kandang kami 2.500 ekor, dalam bulan ini saya mendapatkan hasil pembagian kemitraan 15 juta, dengan umur ayam 30 hari. Sebetulnya sistim ini sangat bagus dikembangkan untuk BUMDes, hanya Modal 100 juta untuk membuat kandang, setiap 40 hari bisa mendapatkan keuntungan 10 juta lebih. Sistim ini, dari hilir sampai ke hulu, peternak sudah tidak repot lagi,“ sebutnya.

Pada kesempatan yang sama, Sangadi Liberia juga menyambangi kandang milik Alfian Podomi, Alpian mengatakan dirinya mulai terjun di dunia ayam sejak tahun 2014. Saat ini dirinya memiliki dua kandang dengan kapasitas 3.000 ekor dan 2.000 ekor selain ayam. “Awal mula saya hanya mempunyai satu kandang, karena usaha ini sangat berprospek, saya membuat satu lagi kandang. Tetapi saat ini dua kandang ini hanya di isi 3.500 ekor, karena bibit ayam masih langka (tidak stabil),”katanya.

Alpian menambahkan dalam pembuatan kandang, dirinya menerapkan sistim tumpang, yaitu atas kandang, bawah ayam. “Jika pembuatan kandang, dibawahnya  ada kolam ikan, peternak dapat untung tambahan. Selain hasil dari ayam juga dapat untung dari pemeliharaan ikan. Dalam empat kali panen ayam, kami satu kali panen ikan,“ kata Papa Gian.

“Keuntungan lain, di bawah kandang ada kolam, lebih memudahkan pembersihan kandang, karena kotoran langsung masuk di kolam ikan untuk makanan ikan,” tegasnya.

Harga ayam di pasaran lepas dari kandang dibeli perusahaan Rp21.350/kg, sedangkan harga di Pasar Serasi (pedagang), sekarang dalam satu ekornya dengan berat 1,8 seharga Rp50.000.(jok)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.