BUMDes Mati Suri, Salah Siapa?

0
ilustrasi

KLIK24.ID-Ekspetasi masyarakat terhadap BUMDes begitu besar. Namun sejak adanya dana desa, keberadaan BUMDes belum bisa memenuhi harapan. Hal itu diungkapkan Wakil Rektor UDK Indah Samuel diruang kerjanya, Senin (2/9) kemarin.
Menurut Indah, belum bangkitnya BUMDes disebabkan salah setting saat pendirian BUMDes dari awal, yaitu saat pemilihan SDM untuk pengurus, analisis potensi untuk jenis usaha, manajemen pengelolaan dan penyertaan modal. “Namun dari ke empat point itu SDM dan analisis potensi yang terpenting,” kata Dosen Mata Kuliah Teori Ekonomi Makro dan Mikro Fakultas Ekonomi UDK ini.

Indah menambahkan terkait dengan penentuan pengurus BUMDes, desa harus mendapatkan pengurus yang mumpuni yang punya integritas, jiwa bisnis dan mempunyai jaringan yang luas. Namun untuk mendapatkan SDM seperti ini sangat sulit, karena pengurus BUMDes tidak digaji, hanya mengharapkan dari pembagian hasil BUMDes. “Jiwa pengabdian dari pengurus untuk membangun desa sangat diperlukan agar BUMDes bisa jalan terlebih dulu,” ungkapnya.

“Untuk desa yang BUMDes, pengurus yang tidak aktif segera diganti. Pilih pengurus yang punya visi, mau bekerja, jangan pilih pengurus berdasar pada kepentingan politik sesaat, agar nantinya sangadi bisa menegur pengurus,” ungkap Indah yang pernah sebagai pemateri Pendirian BUMDes di Bintau. Sedangkan untuk jenis usaha yang akan dipilih BUMDes, diperlukan Analisa usaha. “Jenis-jenis usaha yang dipilih oleh BUMDes, harus sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang ada di masing-masing desa. Jika dikembangkan oleh BUMDes memiliki daya ungkit ekonomi bagi masyarakat yang besar,” kata Indah.

“Sosialisasi mengenai BUMDes pada masyarakat adalah salahsatu faktor yang menentukan hidup dan matinya BUMDes. Partisipasi masyarakat pada proses pendirian BUMDes adalah kuncinya. Tanpa pemahaman yang menyeluruh mengenai konsepsi BUMDes sebagai lembaga usaha maka BUMDesa bakal kekurangan daya dukung sosial. Akibatnya BUMDes kesulitan meyakinkan warga desa sebagai lembaga yang bisa meraksasa. Sebaliknya, BUMDes diaggap tidak cukup menarik bagi warga, terutama anak muda,” jelasnya.

Katanya, solusi untuk menghidupkan BUMDes mati suri adalah Pemerintah Desa harus melakukan beberapa pendekatan baik ke pengurus maupun ke masyarakat. BUMDes harus di re-sosialisasi pada warga sebagai lembaga yang berfungsi mendongkrak ekonomi desa sehingga membutuhkan partisipasi warga. “BUMDes tanggung jawab bersama, Pemerintan Desa, Pengurus BUMDes dan Kesadaran Masyarakat tentang pentingnya BUMDes,” tutupnya.

Sementara Itu Said Banteng selaku Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Bolmong, mengatakan dirinya belum bisa memastikan data yang valid, berapa BUMDes yang mati suri. “Desa belum optimal memanfaatkan sumberdaya di desa. Di sisi lain pengurus BUMDes harus orang memiliki komitmen membangun desa, meskipun belum langsung mendapatkan gaji. Karena gaji atau reward ini bisa didapat ketika ada surplus dari BUMDes. Terkait persoalan politik, saya no comentlah karena itu tidak bisa terukur. Tidak bisa dipastikan apakah seperti itu penyebabnya,” katanya. (jok)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.