Bersua dengan Meyscke Kinontoa, Ciptakan Tari Kreasi Adopsi Sejarah Totabuan

0
Meyscke Ellen Kinontoa (tengah). (f: Istimewa)

Laporan: Tesi Ngodu, Kotamobagu

KLIK24.ID – Sekira Pukul 18.15 WITA, usai kumandang Adzan Maghrib, wartawan menuju kediaman salah satu pelatih tari kreasi totabuan di Jalan Fahar Bulawan, Kelurahan Mogolaing, Kotamobagu Barat. Setiba wartawan di depan rumah pelatih, wartawan di sambut seorang ibu menggunakan daster bermotif yakni Meyscke Ellen Kinontoa SPd. “Mari masuk bu,” ajak Mama Fitri sapaan akrabnya usai berjabat dengan wartawan. Sambil berjalan Kira-kira 6 meter dari depan rumah, mama Fitri mengajak wartawan masuk kerumahnya. “Mari masuk bu, duduk dulu. saya mau sholat sebentar,” katanya sambil menunjuk salah satu tempat duduk. Kira-kira sekitar 10 menit berlangsung, mama Fitri kembali duduk dan berbincang dengan wartawan. Sekedar diketahui, Mama Fitri merupakan salah satu pelatih sanggar, yang sukses mencuri perhatian masyarakat, dengan penampilan tari kreasi adat Mongondow yang berhasil dilirik hingga tingkat nasional. Sebelum menuju kediaman Meyscke Ellen Kinontoa, wartawan terlebih dahulu menjalin komunikasi via telepon.

Kepada wartawan, mama Fitri menceritakan, ketertarikan dengan seni bermula sejak lulus kuliah pada tahun 1994, yang bukan secara kebetulan saat kuliah mengambil program pendidikan seni musik, sehingga mengabdikan diri sebagai guru honorer di MAN Model Manado sebagai guru seni. Pada tahun 1995 berpindah satuan kerja di SMA Inobonto. Saat itu tari kreasi belum dilatih karena masih fokus pada seni musik, namun seiring berjalannya waktu pada tahun 2004 saat menjadi guru di SMA N 2 Kotamobagu, tari kreasi mulai dikembangkan melalui siswa-siswi yang memiliki minat bakat dalam seni tari. Saat itupun siswa-siswi berhasil meraih juara 1 tari bolontung pada Hari Ulang tahun (HUT) Provinsi dan Festival Bunaken.

“Itu prestasi awal yang diraih oleh siswa-siswi, yang kemudian dikembangkan dalam sanggar Bulawan, sanggar tiara fitra dan sanggar Uswatun Hasana,” jelas mama Fitri. Ia mengaku, tari kreasi yang dikembangkan melalui sanggar, ataupun melalui kerjasama antara Dinas Pendidikan Kotamobagu dan Sekolah, telah menyempurnakan targetnya untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap budaya Mongondow melalui tarian. Adapun tarian menonjol yang diciptakan, seperti tari kreasi gabungan antara sejarah bolaang mongondow dan tarian yang memiliki makna persatuan seluruh adat Indonesia.

“Di sanggar saat ini menyiapkan tari Mongondow seperti tari bogani, tari aluang, tari mogama, tari kabela, tari beat, tari srikandi, tari inde dou dan yang paling populer adalah tari tomboinak (ungkapan terimakasih),” terang mama Fitri yang juga sebagai kepala seksi (Kasi) promosi pemasaran dan ekonomi kreatif dinas kebudayaan Pariwisata Kotamobagu. Lebih lanjut, ibu kelahiran 29 November 1969 membeberkan, saat ini aktif mengurus sanggar Tiara Fitra dan sanggar Uswatun Hasana, dengan jumlah anggota kurang lebih 50 orang. Anggota terdiri dari siswa jenjang SD, SMP, SMA dan masyarakat umum. “Seluruh tarian kreasi Mongondow yang diciptakan mampu membawa peserta hingga ke tingkat nasional. Salah satu contohnya tari inde dou dan tari srikandi yang ditampilkan siswa MTs N 1 KK, dalam Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), Festival Syariah di Banjarmasin dan pembukaan Kompetisi Siswa Madrasah (KSM) tingkat Nasional,” bebernya.

Menurutnya, tari kreasi perpaduan antara sejarah Bolaang Mongondow sangat bermanfaat bagi anggota tari maupun masyarakat yang melihat, karena bisa mengingatkan kembali sejarah bolaang mongondow yang dituangkan dalam tarian. “Insyaallah seluruh anggota dapat berlatih dengan baik dan mampu menguasai setiap gerakan perubahan yang didapat saat berlatih. Begitupun dengan tarian yang dilihat oleh anggota, diharapkan dapat membangun ketertarikan masyarakat terhadap sejarah Bolaang Mongondow,” kata mama Fitri menutup wawancara. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.