Zulkifili Ponamon, Pedagang Pasar Serasi: Dua Kios Terbakar, Rugi Ratusan Juta

0
Zulkifli Ponamon (F: Gandi Lambe/HBMR)

Anak ke empatnya yang baru berumur delapan tahun, Rabu (21/8) malam, dengan polosnya berkata kepadanya untuk istirahat dulu berdagang. Jangan dulu ke pasar pada besok hari. Padahal sore itu, kiosnya di Blok C Pasar Serasi, hangus terbakar. Tak satupun barang tersisa

Laporan: Gandi Lambe, Kotamobagu

PAGI itu, Kamis (22/8) sekira pukul 08.10, wajahnya tampak lesu. Dia seakan tak percaya dengan apa yang berada di hadapannya. Dua unit kios miliknya di Pasar Serasi, habis terbakar, barang dagangannya ludes.  Tak ada satupun tersisa. Hanya tumpukan uang koin (logam) pecahan Rp 500 – Rp 1.000 di dalam sebuah kaleng bekas, yang juga ikut terbakar. Jumlahnya  belasan ribu. Zulkifli, bersama dengan beberapa orang yang merupakan kerabatnya, berusaha membersihkan sisa puing kebakaran. Berharap masih ada yang bisa diambil untuk digunakan. Entah untuk dipakai di rumah, atau dijual kembali.  Tapi tampaknya tak ada lagi yang tersisa. Semua piring pecah, dagangan lainnya hangus jadi puing. Bahkan kain dan karpet yang hangus terlipat, masih mengeluarkan asap. “Kemarin (Rabu,21/9), saya di Manado. Mau beli piring Vic*nza. Karena ada pelanggan dari Modayag yang memesan. Sekitar jam setengah tiga dapat kabar, pasar terbakar. Rasanya mau nangis. Kalau ada keajaiban, saat itu juga saya ingin langsung berada di sini (kios),” kata Zulkifli menceritakan kisahnya saat terjadi kebakaran. Pria 40 tahun, warga Mogolaing ini memang sedang tak di kiosnya saat peristiwa naas tersebut. Dia bersama istri, dengan mobil Suzuki Carry yang belum setahun dibelinya, pergi berbelanja di Manado. “Saat mendengar kabar tersebut. Istri saya langsung shock. Seakan tak percaya,” ujar Zulkifli, sembari membereskan puing-puing, sisa kebakaran di kiosnya. Dia bercerita, dalam seminggu terakhir dia memiliki firasat buruk. Tapi dia tak tau maksud dari ‘pesan’ tersebut.

“Lima hari, perasaan selalu gelisah. Sempat juga saya bermimpi dikejar-kejar orang tak dikenal. Seperti ingin menghajar saya. Saya terus berdoa, agar selalu dalam lindungan Allah SWT. Dijauhkan dari mara bahaya. Ternyata cobaan bukan kecelakaan fisik seperti dalam mimpi, tetapi musibah, cobaan materi,” ungkapnya. Di Pasar Serasi, Zulkifli kurang lebih 10 tahun mengais rezeki. Di kios miliknya, dia menjual aneka kebutuhan rumah tangga dan dapur, seperti piring, gelas, kompor, karpet, kain, rak piring, dan lain sebagainya. Dia menggelar dagangannya di dua kios yang saling berhadapan. Satu kios di sisi barat, dan satu kios lagi di depannya, tepat di sudut blok C. Kios yang kedua, terdiri dari tiga unit kios yang saling terhubung. Dalam sebulan, dia mampu menghasilkan pendapatan kurang lebih Rp 50juta. Dari hasil penjualannya tersebut, Zulkifli menghidupi keluarganya.  “Kalau ditaksir, kerugian lebih dari Rp 300juta. Karena saya jualnya banyak juga barang-barang mahal. Seperti piring vic*enza, itu satu duz Rp 2juta lebih. Sekarang sudah jadi begini. Mau bikin apa lagi,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca. “Uang di situ ada sekitar Rp 7juta sudah saya sendirikan. Itu untuk keperluan pribadi. Seperti uang angsuran di bank, angsuran mobil, dan juga cicilan rumah. Belum juga uang di kas kios. Kalau dijumlahkan total uang yang terbakar sekitar Rp 20juta,” lanjutnya. Setiap pagi, Zulkifili bersama istrinya Rita Rani, rutin berjualan di pasar. Dia benar-benar menggantungkan hidupnya di kios tersebut. Dari usahanya tersebut, dia menghidupi keluarga tercintanya.

KLIK JUGA: Kebakaran Pasar Serasi: Tak Dilalap Api, Isi Kios Habis Dijarah

Anaknya lima. Yang pertama sudah berkeluarga. Yang bungsu baru berumur tiga tahun. “Harapan saya cuma di sini. Setiap pagi, sebelum ayam berkokok kami sudah di sini. Begitu juga kalau pulang, ayam sudah di kandang, kami baru mau tutup,” bebernya. Kini, modal usaha Zulkifli tak ada lagi. Dia hanya bisa pasrah. Sembari berharap beberapa kewajibannya bisa memperoleh kompensasi dari pemberi kredit. Seperti Bank dan Finance. Dia harus memutar otak untuk memulai lagi dari awal. Memang tak gampang, namun sebagai insan yang beriman dia menyerahkan cobaan yang menimpanya tersebut kepada Allah SWT.  “Insya Allah ada hikmah dibalik cobaan ini. Allah tidak pernah memberi cobaan diluar batas kemampuannya hamba-Nya,” ucapnya penuh harap.(*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.