Tetap Istiqomah

0
Fauzi A Permata

Catatan:

Fauzi Permata, Direktur Harian BMR

Baru 11 tahun dan kami terus menapaki tahun-tahun yang akan datang bersama pembaca

RASANYA tidak lagi menarik bahas 11 tahun sudah usia koran ini terbit dan beredar.   Jadinya akan narsis.  Apalagi ditambah embel-embel sebagai koran Nomor Satu dan terbesar di Bolaang Mongondow Raya.  Sebagai referensi terpercaya semua kalangan.  Bahkan, media bergedung megah dan paling disegani di seantero Bumi Totabuan.

Bukan pula bercerita mengenang hari ini 11 tahun yang lalu. Bagaimana para empunya perusahaan yang menaungi koran ini punya ide menerbitkan koran scope lokal di tengah ketidakpastian untung rugi investasi media di daerah ini.

Kami memilih memantapkan niat.  Membuka pikiran untuk melahirkan ide-ide baru.  Menggulir inovasi dan karya-karya yang lebih baik.  Satu, Dua, Belasan atau Puluhan tahun yang akan datang.  Dimana Harian BOLMONG RAYA , yang sebelumnya dikenal dengan Radar Bolmong, Radar Totabuan dan Tribun Totabuan, baru berusia 11 tahun, dengan penggawa-penggawa yang tetap istiqomah, hadir dan akan terus bersama pembaca.

Tentu tidak mudah mengayun langkah. Setapak demi setapak, lari dan melompat lebih tinggi.  Silih berganti aral menempa.   Apalagi, menatap suram masa depan industri media yang konon tanpa kertas.  Artinya, media cetak seperti Harian BMR, tinggal menunggu waktu.  Jelang senja dan sebentar lagi dibenamkan media-media gaya baru, memanfaatkan teknologi terbarukan.

Memang.  Perjalanan industri media cetak sedang di jalur terjal.  Tapi yakin, belum tentu terperosok, hancur, mati.

Penurunan industri media cetak tidak hanya disebabkan oleh kehadiran teknologi informasi dan perubahan perilaku baca masyarakat yang lebih tertarik dengan digital, namun juga ada beberapa faktor lain yang bersifat internal.

Big Boss kami,  Dahlan Iskan, dalam beberapa kesempatan, selalu mewanti.  Media akan rentan terpuruk oleh tiga faktor. Ketiga faktor tersebut adalah kesalahan manajerial, kualitas rendah redaksi, dan kenaikan harga kertas.

Pertama, Dahlan mengatakan masalah paling utama yang dihadapi oleh media cetak pada saat ini adalah kegagalan manajerial.  Kegagalan mencakup ketidakmampuan mengelola sumber daya manusia, jenjang karier karyawan, penghasilan, keuangan, dan apresiasi terhadap karyawan.

Ia memberi contoh salah satu koran di Indonesia yang mengalami kegagalan manajerial karena tidak mengangkat karier salah satu karyawan redaksi yang memiliki kualitas, semangat, dan etos kerja sangat tinggi. Justru, koran tersebut menyerahkan kursi kepemimpinan kepada orang lain yang memiliki kompetensi lebih rendah.  Alhasil, koran tersebut mengalami penurunan setelahnya.

Kedua, Dahlan mengatakan pihak redaksi akan terkena imbas yang menyebabkan kualitas tulisan menurun. Padahal, media cetak sangat bertumpu pada kemampuan jurnalis mengolah kata.  Apalagi, saat ini media cetak harus bersaing dengan media online yang memiliki keunggulan dari sisi kecepatan dan multimedia.

Saat ini, media cetak khususnya koran ditantang untuk menciptakan tulisan yang mampu dinanti-nantikan oleh pembaca. Media cetak juga harus berani memproklamirkan diri sebagai media dengan kasta tertinggi di jurnalistik. Syaratnya, kualitas penulisan dan penyajian konten di koran harus mereprensentasikan diri sebagai pemegang kasta tertinggi di jurnalistik.

Ketiga, faktor yang juga memberatkan industri media cetak adalah kenaikan harga kertas. Dahlan memprediksi harga kertas akan terus naik karena bahan baku pembuatan kertas yang semakin sulit didapat. Khusus kertas koran, kertas tersebut dibuat dari koran bekas. Sayangnya, koran bekas semakin sulit didapat karena memang penjualan koran semakin menurun.  Ini problem yang berat, karena koran dicetak di atas kertas.

Tapi, juga oleh Dahlan, pada kesempatan lain, menegaskan jangan phobia dengan perkembangan.  Harus menusuk masuk dan mengobrak-abrik, membuat inovasi-inovasi baru.  Toh desas-desus bakal punahnya media cetak tak begitu terbukti, kecuali oleh tiga persoalan di atas.  Bahwa faktanya, Koran tetap hidup dan berkembang.  Buktinya, ya kami.  Harian BOLMONG RAYA tetap hadir dan akan terus menapaki tahun-tahun yang akan datang bersama pembaca.

Kuncinya, kerja, kerja, kerja.  Tidak resah dengan masalah, tapi resah bagaimana dan apalagi yang terbaik harus dilakukan.  Kami akan tetap istiqomah…(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.