Studi Banding Sangadi Perlukah?

0
INOVASI: Bursa inovasi desa sebagai salah satu jendela, untuk melihat kondisi desa yang sukses dan mandiri.

KLIK24.ID – “Saya mengingatkan jajaran eksekutif agar lebih efisien, untuk apa studi banding Jauh-jauh sampai keluar negeri, padahal informasi yang butuhkan bisa diperoleh dari smartphone,” itulah kutipan pidato kenegaraan Jokowi pada tanggal 16 Agustus 2019 di gedung MPR dihadapan anggota DPR dan MPR. Kutipan pidato itu juga relevan bila diterapkan untuk penyelenggara Pemerintah Desa. Hal itu juga disampaikan Ketua BPD Otam, Samuel Mokoginta, S.Pd.M.M, saat ditemui HBR, di kediamannya, Kamis (22/8) kemarin.

Samuel menambahkan masalah studi banding menjadi hal yang krusial bagi para pemangku jabatan. Menurutnya, studu banding bisa dilaksanakan, sepanjang hal yang menjadi objek sangat bermanfaat untuk desa, dan bisa diaplikasikan di daerah untuk kesejahteraan rakyat. “Akan lebih bijak bila yang ahlinya saja didatangkan ke daerah/desa untuk melihat dan mengembangkan potensi-potensi daerah, dengan demikian bisa meminimalisir anggaran,” ungkap Samuel.

Sisi lain Sangadi Passi Satu, Delianto Bengga menuturkan studi banding itu penting untuk menambah wawasan dan meningkatkan ilmu pengetahuan. Salah satu gunanya adalah untuk menduplikasi atau bahkan menemukan pengembangan ide baru dari apa yang dilakukan dalam studi banding. “Pembanding itu penting dalam mengukur sesuatu, sehingga dibeberapa kondisi sangat dibutuhkan studi banding. Namun saat ini dengan adanya internet kita lebih mudah untuk mendapatkan informasi dan biaya lebih murah dan cepat. Saya setuju dengan pernyataan Bapak Presiden, tetapi akan lebih mantap lagi jika diikuti dengan pelayanan internet yang cepat yang tersebar merata di tanah BMR, serta dapat dibijaksanai. Harga internet untuk dimurahkan bahkan digratiskan oleh Pemerintah Pusat,” tuturnya.

Sangadi Kinomaligan Kecamatan Dumoga Tengah, Sudjito Damodalag,SE, justru lebih tegas lagi mengamini apa yang disampaikan Presiden. “Betul sekali apa yang disampaikan oleh bapak Presiden. Studi banding sebetulnya hanya buang-buang anggaran, padahal boleh saja tempat-tempat tujuan tersebut kita dapat lewat smartphone. Begitu juga dengan kegiatan bimtek untuk perangkat desa. Berdasarkan pengalaman, yang sudah beberapa kali dilakukan diluar daerah baik di Jakarta, Malang, Batam dan daerah lainnya. Peserta pelatihan tidak semuanya fokus kepada materi yang diberikan tetapi lebih berpikir ke urusan jalan-jalan (pesiar). Sehingga pada saat ditanya tentang materi bimtek yang diberikan adakalanya tidak tahu, karena konsentrasinya bukan disitu, dianggap materi itu tidak terlalu penting,” tegasnya.

Menurut sangadi lulusan STIE pioner Manado ini, untuk meminimalisir penggunaan anggaran lebih efektif dan efisien mungkin alangkah baiknya diputar. “Kalau kegiatan Bimtek lebih baik tempat pelaksanaannya di wilayah saja, misalnya di Kotamobagu. Atau kalau tempatnya perlu sedikit jauh minimal di Manado. Nanti pemateri mendatangkan dari pusat,” ujar Sudjito.

Sementara itu Dedy Martasen,Tenaga Ahli Pengembangan Ekonomi Desa (TAP3D) Kotamobagu mengatakan kewenangan pendamping desa terbatas pada dana desa. “Dalam APBDes termuat dana desa dengan ADD. Kalau dana desa sudah torang larang untuk studi banding, sejak 2016 desa tidak berani menggunakan dana desa untuk kegiatan itu. Itu sudah clear. Terkait ADD, kewenangan pengawasan penggunaannya pada Pemda/Pemkot, dana itu digunakan untuk apa,” tegasnya.

Terpisah, Cristin Mokalu selaku Koordinator Tenaga Pendamping Profesional Desa menambahkan angka kemiskinan di negara kita masih termasuk tinggi, begitu pun di kabupaten dan di desa. Dana yang digunakan untuk study banding tidak memiliki manfaat langsung dalam penurunan angka kemiskinan. Apalagi study banding yang terindikasi lebih kepada urusan jalan-jalan atau pelesir. “Harapan kami, dana negara, APBN, APBD atau dana desa/ADD lebih banyak digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang bermanfaat langsung dalam penurunan angka kemiskinan, yaitu digunakan dalam bidang pertanian, kewirausahaan, layanan sosial dasar, pendidikan dan kesehatan,” harapnya.(jok)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.