Pengusaha Lobong Protes, Kapur Gorontalo Masuk BMR

0
USAHA: Aktivitas petani kapur Lobong sedang mengolah batu gamping menjadi kapur.

KLIK24.ID – Banyak manfaat yang terdapat pada gamping (kapur putih). Selain bermanfaat untuk pertanian (meningkatkan PH tanah, membasmi hama), bahan bangunan, ternyata juga bisa untuk industri yaitu pengolahan emas (Ref), dan sebagai campuran pembuatan semen. Demikianlah diungkapkan pekerja batu gamping dari Lobong, Sultan Paputungan, Kamis (18/7) di tempat pembuatan kapur.

Namun Sultan mengeluhkan harga  kapur putih yang terus merosot tajam. “Harga per bantalnya hanya Rp12.000. Dulu harganya Rp25.000 sekarang untungnya tipis,” keluh petani berumur 26 tahun. Senada, Amir Mokoginta (52) yang juga petani Batu kapur. Tempo hari, katanya, batu kapur Gorontalo, dijual lebih murah hanya Rp10.500. “Torang mohon pemerintah bisa atur harga batu kapur, torang pengusaha lokal harus dilindungi, biar torang bisa hidup,” keluhnya juga.

Terpisah Muhidin Mokodongan (59) menambahkan penyebab anjlok usaha karena masuknya batu kapur dari Gorontalo dan pabrik kapur Tohor yang ada di Lonik, Labuan Uki. “Dorang jual sekarang cuma Rp10.000. Harga batu kapur akan semakin hancur, sementara untuk memproduksi batu kapur perlu biaya besar terutama kayu sebai bahan bakarnya. Kalau begini caranya, usaha kami bisa mati padahal  usaha batu kapur merupakan penghasilan utama kami, dan pekerjaan turun menurun dari para pendahulu kami,“ kata petani yang menekuni usaha batu kapur sejak tahun 1960.

“Coba anggota DPR turun, perhatikan nasib kami, jangan hanya ketemu saat perlu suara saja,” kesalnya. Muhidin juga berharap Pemerintah Bolaang Mongodow bisa intervensi/campur tangan untuk menstabilkan harga menjadi lebih baik. “Mungkin bisa diatur dengan JRBM selaku perusahaan pengolahan emas yang ada di wilayah Bolmong. Kalau beli batu kapur harus dari petani batu kapur dari kami, atau beli dari luar setengah dari kami  setengah. Lihat stok kami masih banyak, kalau adanya beli harganya rendah, kami hanya kebagian pembeli yang beskala kecil, misalnya penambang kecil dan petani,” tambahnya.

Sementara itu, Sangadi Lobong, Indawati Mokoginta, SP saat ditanya perihal permasalahan ini membenarkan bahwa harga batu kapur di desanya sekarang baru anjlok. “Beberapa minggu lalu sempat terjadi insiden, yaitu pencegatan terhadap truk-truk dari luar, tapi saya sudah kumpulkan petani batu kapur, Tengkulak, dan Pemilik gudang batu kapur dari daerah lain, BPD (Badan Perwakilan Desa) dan lembaga Adat Desa Lobong torang rapat mencari solusinya,” jelasnya.

Yani Potabuga, tokoh masyarakat Desa Lobong, mengatakan sesungguhnya usaha batu kapur di Lobong bisa dikembangkan, bisa menjadi produk andalan Desa Lobong selain komoditi nanas, bahkan bisa jadi Andalan atau kebanggaan Kabupaten Bolaang Mondondow. “Petani dilatih agar kualitas kapurnya bagus,agar kadarnya tidak turun, petani lobong mengolah batu kapur menjadi tepung kapur masih dengan cara tradisional, yaitu disiram dengan air. Sehingga kadarnya bisa turun, kalau ditempat lain, setelah dibakar lalu digiling, bukan disiram. Selain itu Karung batu kapur bisa dikasih merek, Batu Kapur Lobong (misalnya), agar punya nama brand dan bisa menjadi trend mark pasar,” harapnya.

Pengolahan Batu Kapur Lobong, awalnya belajar dari TNI dari Jawa jaman permesta, untuk membangun rumah-rumah, jembatan. Saat itu harga semen amat mahal, dipakailah batu kapur. Dalam satu bulan petani bisa memproduksi 5.000 bantal. Petani batu kapur di Desa lobong,  Kecamatan Passi Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow, berjumlah 20-30 orang.  Cara pengolahannya masih sangat sederhana, petani terlebih dulu menggali  Batu Kapur di sekitar desa Lobong, Selanjutnya batu dimasukan di sebuah tungku besar, lalu dibakar dengan kayu kelapa, pelepah kelapa, atau kayu yang lain selama 36 Jam agar tidak keras (bisa lembuk). Selanjutnya disiram dengan air agar menjadi tepung kapur, setelah dingin baru di ayak (saring) dimasukin kedalam karung, dan siap dijual.(jok)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.