BUMDes Usaha Kanopi Tidak Efektif

0
ilustrasi

KLIK24.ID – Hasil pantauan koran ini, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang bertumpu pada jenis usaha kanopi di desa-desa BMR hampir 70%. Perkiraan biaya untuk membuat usaha ini sejira Rp80 juta untuk 8-10 bak. Begitu banyak BUMDes jenis usaha kanopi memicu persaingan bisnis barang ini. Akibatnya omset yang diharapkan tidak sesuai ekspetasi. Keadaan ini mendapat tanggapan dari berbagai kalangan. Salah satu sangadi di daerah Dumoga yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan BUMDes di desanya yang bertumpu pada jenis usaha kanopi sudah memberikan PADes. Dalam waktu tiga bulan hanya bisa memberikan sumbangsih sebesar satu juta. “BUMDesnya memiliki kanopi 8 bak, bulan ini masih kurang pesta. Satu bulan hanya satu atau dua pesta, dipotong ongkos pemasangan, pemeliharaan, jadi hanya mampu setor ke desa satu jutaan dalam tiga bulan,” ungkapnya.

Menariknya, kata Sangadi Otam, Rusli Manggalupang menyampaikan ke HBR (21/8) bahwa dalam pertemuan dengan pendamping desa propinsi beberapa waktu lalu, pendamping desa propinsi juga menyampaikan bahwa BUMDes jenis usaha Kanopi tidak efektif dan kurang mengena pada masyarakat. “Alhamdulillah BUMDes desa kami tidak bergerak jenis usaha itu, tetapi berjenis usaha simpan pinjam, dan diberikan apresiasi dari pendamping desa. Memang betul koperasi beresiko, tetapi jika dijalani dengan kehati-hatian, pasti bisa meminimalisir resiko ” kata Rusli.
Sementara Tim Ahli bidang BUMDes Kabupaten Bolmong, Santi mengatakan BUMdes di Bolmong memang banyak yang kurang produktif usahanya seperti kanopi, sewa kursi dan alat catering (angkat kotor). Ini dikarenakan belum paham betul pemerintah desa dan masyarakat terkait BUMDes di awal penerimaan Dana Desa tahun 2015 dan 2016. Tetapi setelah di tahun 2017 sudah banyak usaha BUMDes yang lebih inovatif seperti pengelolaan tempat wisata, jual beli hasil pertanian, dan lainnya yang melewati kajian usaha sesuai potensi yang ada didesa. “Pengadaan kanopi karena perputaran uangnya sangat kecil. Hal ini tidak lepas dari peran para pendamping baik Pendamping Lokal Desa (PLD), Pendamping Desa (PD) dan Tenaga Ahli (TA) yang intens memberi pemahaman di desa, seperti mengadakan kegiatan Bursa Inovasi Desa. Dengan adanya BUMDes yang bisa menyumbangkan PADes desa di Bolmong bisa mandiri,” jelas Santi.

Terpisah Dedy Martasen, Tenaga Ahli Pengembangan Ekonomi Desa (TAP-ED) Kotamobagu membenarkan BUMDes jenis usaha Kanopi memang tidak terlalu efektif, karena kompetisinya padat (banyak saingan) dan permintaan kebutuhannya musiman. “Sebagai pendamping desa, pada saat pendirian BUMDes sudah disarankan pada desa untuk lebih selektif lagi memilih dan mengeksplore unit usaha BUMDes. Diprioritaskan mengeksplore produk desa untuk dikelola, walaupun pada prinsipnya unit usaha tenda itu tidak dilarang dalam regulasi yang ada, namun harus dipertimbangkan bahwa putaran usahanya cukup kecil. kedepan diharapkan untuk desa bisa lebih selektif lagi menentukan identifikasi potensi ekonomi untuk dijadikan unit usaha agar bisa menjadi objek yang mendatangkan income besar di desa. Terkait hal ini juga pendamping desa akan lebih intens melakukan pendampingan dalam rangka mewujudkan usaha BUMDes yang benar-benar bisa mendatangkan income besar bagi desa,” tutup Dedy.(jok)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.