Petani Kemiri Bilalang Butuh Perhatian

0
Ilustrasi

KLIK24.ID – Sepanjang jalan Bilalang Baru menuju Desa Apado, Bilalang Baru  menuju desa Tudu Aog dan sepanjang jalan Tudu Aog menuju Desa Kolingangaan terlihat hamparan pohon dengan buah bergelantungan. Bentuknya bulat kecil, bergerombol, masih berwarna hijau, serta pohon besar dan tinggi. Itu adalah pohon kemiri.

Desa di wilayah Kecamatan Bilalang ini terkenal selain penghasil kopi juga penghasil Kemiri terbesar di BMR. Kecamatan Bilalang, jadi incaran para pedagang/pengepul kemiri. Selain  memang penghasil kemiri terbesar, kemiri di Bilalang daging buahnya mudah dipisahkan dengan kulitnya.

Menurut pedagang kemiri asal Mongkonai , Alfian (31), kemiri didapat dari petani di wilayah Bilalang, misalnya Tudu Aog Bersatu, Apadog, dan Kolingangaan. “Harga kemiri saat ini yang belum dikupas Rp8.000-Rp8.300 per kg, sudah dikupas  belum pecah harga per kg nya Rp38.000. Sedangkan yang pecah dua harganya hanya Rp 28.000 per kg,” jelas pedagang yang sudah tujuh tahun menggeluti bisnis kemiri.

Alfian menambahkan untuk pemasaran kemiri, di jual keluar kota, yaitu Surabaya, Makasar, dan Manado. “Jaringan pemasaran saya paling jauh ke Surabaya. Saya belum bisa mengekspor, padahal ada peluang untuk itu, cuma  produksi masih terbatas, hanya dapat memenuhi permintaan domestik/lokal. Makanya pihak saya  berharap pemerintah terus selalu mengadakan penyuluhan tentang budidaya kemiri. Dengan Dana Desa, Pemerintah Desa bisa menggerakkan petani untuk lebih banyak menanam kemiri, dengan cara  memberikan stimulan yang bisa menggairahkan bertanam kemiri. Menanam kemiri itu tidak sulit, mudah perawatannya, harganya stabil bahkan cenderung naik, dan tiap tahun dua kali panen,“ jelasnya.

Petani yang juga pengepul asal Bilalang Baru,Nelson Otota mengakui pemasaran kemiri miliknya, dijual di pasar Kotamobagu. “Hari ini saya jual 150 kg ke pasar. Saya  beli harga Rp7.500 per kg dari petani, petani tidak perlu ke pasar (Kotamobagu), cukup disini saja tidak perlu ongkos transport. Penjualan kemiri dirinya sudah dipecah, kemiri dipecah secara tradisional, daging buahnya di pasarkan di Kotamobagu, dan kulitnya di jual ke perusahaan Kargil Amurang. Harga per kg Rp 1000,” katanya

Sangadi Tudu Aog Induk, Rusmin Mokodongan mengatakan petani di desanya perlu bantuan alat pemecah kemiri. Alat pemecah kemiri desanya baru satu. “Dengan Alat Pemecah kemiri, petani akan menghemat waktu, dan kualitas jualnya lebih baik, dibandingkan dengan cara tradisional untuk memcah kemiri, hasil kebanyakan pecah dua. Jika  didesanya ada alat pemecah kemiri yang modern, maka kualitas jual kemiri akan bagus. Hal ini berdampak pada harga yang bagus pula, sehingga petani akan menikmati hasil panennya. Dengan demikian akan meningkatkan taraf hidupnya. Mengingat, hampir 90 persen, masyarakat Tudu Aog menggantungkan hidupnya sektor pertanian/perkebunan, dan kemiri merupakan andalan desa kami. Rencananya pihak BUMDes akan menampung hasil panen kemiri, jika peralatan pemecah,” katanya.

Terpisah, Sangadi Kolingangaan, Recky J. Waleleng mengatakan keluhan petaninya terletak di jalan dan informasi. “Puji Tuhan, Pemerintah Kabupaten sudah perhatian dengan pelebaran jalan, dan akan di aspal walau baru 1,5 km dari Desa Tudu Aog. Meski belum sampai di desa kami, setidaknya bisa memperlancar hasil perkebunan. Kebutuhan fasilitas informasi juga penting untuk desanya kami, agar petani bisa memantau harga jual komoditas pertanian dan budidayanya. mengingat desa kami blank signal. Semoga pihak swasta bisa mendengar keluhan kami, jangan hanya berpikir bisnis, tapi juga harus perhatikan investasi dan sosial. Kalau dihitung secara bisnis memang betul belum menguntungkan, tetapi saya yakin ke depannya bisa menguntungkan,” harapnya.(jo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.